- Kuota Diskusi Anies Baswedan Habis dalam Tiga Menit, Peserta Lanjutkan Dialog di Tangga Old College Edinburgh
- KAI Logistik Tingkatkan Layanan dengan Hadirkan Fitur Live Chat pada Website
- 683 Atlet Depok Siap Berlaga di Porprov XV Jabar 2026, Supian Suri Beri Pesan Khusus
- Jakarta Financial Festival 2026 Resmi Dibuka, Fokus Perkuat Inklusi Keuangan
- BINUS Hadirkan Multihelix Hub untuk Menjawab Kebutuhan Industri dan Masyarakat
- KAI Logistik Distribusikan 122 Ribu Unit Sepeda Motor hingga Triwulan III 2026
- Dari Serie D ke Liga Champions, Como Mengguncang Eropa dalam Sembilan Tahun
- PSSI Tolak Undangan King ASEAN Cup, Balasan untuk Malaysia?
- HUT ke-70 SUCOFINDO Cabang Pontianak Salurkan Bantuan Renovasi Pondok Pesantren Al-Itishom
- Bank Raya Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Dukung Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
Kuota Diskusi Anies Baswedan Habis dalam Tiga Menit, Peserta Lanjutkan Dialog di Tangga Old College Edinburgh

Keterangan Gambar : Anies Baswedan Diskusi Di Old College, Skotlandia
Bernusa.com. EDINBURGH — Kuota peserta diskusi bersama Anies Baswedan di Old College, University of Edinburgh, Skotlandia, habis hanya dalam tiga menit. Tingginya antusiasme diaspora Indonesia dan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Edinburgh bahkan membuat sejumlah peserta yang tidak kebagian tempat tetap datang dan menunggu di luar.
Anies Baswedan, yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut pada Minggu lalu, menceritakan pengalaman itu melalui unggahannya. Antusiasme peserta membuat panitia harus mencari ruangan yang lebih besar untuk mengakomodasi mereka.
Namun, keterbatasan waktu operasional gedung pada hari Minggu membuat ruangan harus sudah bersih dan ditutup pukul 17.00 waktu setempat. Diskusi yang masih berlangsung hangat akhirnya berlanjut di tangga Old College.
Baca Lainnya :
- AI Mulai Masuk Industri Film, Jeremias Nyangoen: Kita Tak Bisa Menolak Perkembangan Teknologi0
- UKM KPI Unhas dan Dinas SDABK Bone Perkuat Kemitraan Pengembangan Irigasi melalui Penandatanganan LoA0
- Chico Hakim: Rekan Indonesia Perkuat Program Pasukan Putih Jangkau Kelompok Rentan0
- Sinergi Mahasiswa dan Pemerintah Daerah Revitalisasi Program P2L KWT melalui Penyaluran 1.300 Bibit di Bone, Sulawesi Selatan0
- KP-KGS Dukung Aksi Mahasiswa Menuju Indonesia Bangkrut0
Di tempat itu, anak-anak muda Indonesia duduk bersama, mengajukan pertanyaan, menyampaikan sanggahan, dan bertukar gagasan. Pembahasan mencakup persoalan perkotaan dan masa depannya, serta situasi terkini di Indonesia.
Anies menggambarkan suasana tersebut sebagai pengalaman yang mengingatkannya pada tradisi rembug di serambi kampus ketika masih kuliah. Meski berpindah dari ruang diskusi ke tangga gedung, antusiasme peserta tidak surut.
Old College merupakan salah satu bangunan bersejarah University of Edinburgh yang pembangunannya dimulai pada 1789, pada masa Pencerahan Skotlandia. Pada era tersebut, Edinburgh berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan mengenai ekonomi, tata kota, ilmu pengetahuan, dan kehidupan bersama.
Suasana diskusi di tangga Old College seolah menghadirkan kembali tradisi bertukar pikiran di ruang terbuka. Para peserta tidak sekadar mendengarkan pembicara, tetapi juga aktif mempertanyakan berbagai persoalan dan menyampaikan pandangan kritis.
Dalam diskusi tersebut, perhatian terhadap Indonesia menjadi salah satu benang merah pembicaraan. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para peserta mencerminkan kepedulian terhadap kondisi tanah air sekaligus keinginan untuk ikut berkontribusi dalam memperbaikinya.
Anies menilai, meskipun berada jauh dari Indonesia, para mahasiswa dan diaspora itu tetap menaruh perhatian terhadap persoalan bangsa. Jarak geografis tidak menghapus keterikatan mereka dengan tanah air.
Pertemuan tersebut terselenggara bersama PPI Edinburgh, Karsa CityLab, dan komunitas diaspora Indonesia yang hadir, baik di dalam ruangan maupun di tangga Old College.
Diskusi yang berlanjut hingga ke tangga gedung bersejarah itu memperlihatkan besarnya minat terhadap ruang dialog yang terbuka dan kritis. Bagi para peserta, pertemuan tersebut bukan hanya kesempatan bertukar pikiran dengan Anies, melainkan juga ruang untuk merawat kepedulian terhadap masa depan Indonesia dari negeri orang.
_-_Copy.png)








_(1).png)
