- 28 Tahun di Jalan Perjuangan: Suara Buruh Tak Pernah Padam
- Hardiknas 2026: Kampus Menjadi Dapur Umum, Kesejahteraan Dosen Masuk Liang Lahat.
- Mohammad Novianto Siap Bawa Lamongan Lebih Hijau dan Modern
- Kado Istimewa untuk Ojol: Regulasi Baru, Harapan Lama yang Menanti Pengawasan
- May Day 2026 di Monas: KPBI Dorong Negara Hadirkan Daycare dan Hunian Terintegrasi untuk Buruh
- Peringatan Hari Kartini 2026, PKK Jakarta Timur Deklarasikan Gerakan Pilah Sampah
- 15 Nyawa Melayang, Negara Gagal Menjaga Rel Keselamatan.
- Qurban Berkah Harga Ramah Hanya di RIZQI Jalan Bangka Raya, Jaksel
- Pekerja UI Desak Kepastian Hak dan Pembentukan PKB Di May Day 2026.
- Sekjen Rekat Indonesia Dan Sekjen Gema Bela Negara.Heikal Safar SH, Dihadiri Presiden Prabowo, Jadikan Momen Demo Buruh Sebagai Gerakan Masyarakat Bela Negara Yang Humanis
28 Tahun di Jalan Perjuangan: Suara Buruh Tak Pernah Padam
Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI

Keterangan Gambar : Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI Dalam Satu Aksi May Day Beberapa Tahun 2000 Di Monas
Dua puluh delapan kali saya ikut dalam peringatan May Day. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar angka. Tapi bagi saya, itu adalah jejak panjang yang dipenuhi peluh, teriakan, dan keyakinan yang tak pernah benar-benar padam. Dari satu titik ke titik lain, dari satu rezim ke rezim berikutnya, suara buruh terus mencari jalan agar didengar.
Saya masih ingat May Day terbuka pertama pasca reformasi di halaman kampus UI Salemba. Saat itu, kami tidak punya banyak perlengkapan. Hanya sebuah toa sederhana, suara yang kadang serak, dan tekad yang keras seperti batu tapi justru dari keterbatasan itu, lahir keberanian. Kami belajar bahwa suara kecil, jika terus diulang dan diperjuangkan, bisa menjelma menjadi gema yang tak bisa diabaikan.
1 Mei 2026, panggungnya berbeda. Ada panggung megah, sound system yang lebih kuat, barisan yang lebih rapi. Tapi esensinya tetap sama: suara dari pinggiran harus menembus dinding kekuasaan. Tidak boleh lagi ada jarak yang membuat penderitaan buruh hanya menjadi statistik di meja birokrasi.
Baca Lainnya :
- Hardiknas 2026: Kampus Menjadi Dapur Umum, Kesejahteraan Dosen Masuk Liang Lahat.0
- May Day 2026 di Monas: KPBI Dorong Negara Hadirkan Daycare dan Hunian Terintegrasi untuk Buruh0
- Pekerja UI Desak Kepastian Hak dan Pembentukan PKB Di May Day 2026.0
- Lima Tuntutan Ojol: Negara Absen, Platform Panen0
- Ribuan Pekerja Terancam PHK, Serikat Buruh Desak MA Batalkan Pailit PT Dua Kuda Indonesia0
May Day tahun 2026 memberi satu momen yang tak bisa diabaikan. Untuk pertama kalinya, saya berdiri hanya sekitar lima meter dari Presiden, menyampaikan langsung tuntutan kaum buruh. Sebagian mungkin melihat ini sebagai simbol. Tapi bagi kami, ini adalah bukti bahwa konsistensi bukanlah sesuatu yang sia-sia. Ia membuka celah. Ia menciptakan ruang. Ia memaksa kekuasaan untuk mendengar, meski mungkin belum sepenuhnya mau mendengarkan.
Namun, perjuangan tidak pernah selesai hanya karena kita sudah berbicara di hadapan penguasa. Justru di situlah babak baru dimulai. Mobilisasi telah dilakukan, tuntutan telah disuarakan. Tapi sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan tidak berubah hanya karena mendengar. Ia berubah karena ditekan, diawasi, dan terus diingatkan.
Tugas kita hari ini jauh lebih berat. Kita harus mempercepat pengorganisiran, memperbesar barisan, dan memastikan bahwa setiap tuntutan tidak berhenti sebagai retorika di panggung aksi. Gerakan buruh tidak boleh menjadi perayaan tahunan yang kehilangan arah. Ia harus menjadi kekuatan yang hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.
Dalam perjalanan panjang ini, dinamika organisasi adalah keniscayaan. Perbedaan, konflik, bahkan kelelahan, akan selalu hadir seperti gelombang yang datang silih berganti. Tapi justru di situlah konsistensi diuji. Gerakan yang kuat bukan yang tanpa konflik, melainkan yang mampu bertahan dan berkembang di tengahnya.
Perjuangan buruh bukan sprint yang selesai dalam satu putaran. Ia adalah maraton panjang, kadang melelahkan, kadang terasa sepi, tapi selalu menuntut keteguhan. Dan selama ketidakadilan masih ada, selama buruh masih dipinggirkan dari kesejahteraan yang layak, maka perjuangan ini tidak akan pernah usai.
Suara kami mungkin pernah dianggap bising. Tapi sejarah selalu mencatat: perubahan besar sering lahir dari suara yang dulu ingin dibungkam. Perjuangan belum selesai. Dan kami tidak akan berhenti.
_-_Copy.png)





_(1).png)



