- Ketergantungan Impor Picu Krisis Plastik, Pemerintah Dorong Bioplastik Lokal
- Langkah Nyata Pemerintah: Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi di Mimika
- Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia
- Kowapta Soroti Kinerja Jakpro: Ambisi Besar Dinilai Tak Sejalan dengan Akuntabilitas
- Indonesia Menuju Era Demokrasi Baru: Membaca Regresi Militerisme dengan Data, Teori, dan Fakta Mutakhir.
- PRSI Kembangkan CNC Serbaguna, Perkuat Industri dan Siapkan Generasi Robotika
- Dukung Ketegasan Munjirin, Jangan Biarkan Birokrasi Jadi Panggung Sandiwara
- Audensi di Kantor Kementerian PB.Formula Berharap Yusril Ihza Mahendra Mendukung Kegiatan Majis Ilmu dan Majlis Dzikir
- Ketua KJJT Ade Maulana Wafat, VJB Takziah ke Rumah Duka di Surabaya
- Megah di Mata, Berat di Anggaran: Membaca Ulang JIS
Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia
Oleh Mochdar Soleman, S.IP., M.SI Akademisi Universitas Nasional – Sekjen GP Nuku

Keterangan Gambar : Mochdar Soleman, S.IP., M.SI Akademisi Universitas Nasional – Sekjen GP Nuku
BERNUSA.COM: Opini-Ketika rudal kembali melintasi langit Timur Tengah, dunia cenderung membaca peristiwa itu sebagai konflik militer biasa yakni "perseteruan lama antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sewaktu-waktu meledak dalam bentuk serangan terbuka. Namun pembacaan seperti itu terlalu dangkal." Di balik suara ledakan dan retorika diplomatik, perang yang sedang berlangsung sesungguhnya adalah pertarungan atas sumber daya strategis, jalur energi global, dan dominasi kekuasaan internasional.
Timur Tengah bukan sekadar wilayah geopolitik. Ia adalah pusat energi dunia. Kawasan ini menyimpan cadangan minyak dan gas yang menjadi penopang ekonomi global modern. Karena itu, setiap konflik di kawasan ini hampir selalu beresonansi hingga pasar dunia, memengaruhi harga energi, stabilitas ekonomi, dan arah politik internasional.
Dalam konteks ini, Iran menempati posisi yang sangat penting. Selain memiliki cadangan gas alam yang sangat besar, negara tersebut berada di sekitar Selat Hormuz jalur laut yang menjadi nadi distribusi minyak dunia. Sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk melewati titik ini. Gangguan sekecil apa pun di sana dapat mengguncang pasar global.
Baca Lainnya :
Karena itulah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak cukup dibaca sebagai isu keamanan atau rivalitas ideologi. Yang dipertarungkan juga adalah kontrol atas ruang strategis yang menentukan stabilitas pasokan energi dunia.
“Di sinilah perang menunjukkan wajah politiknya yang paling nyata”, dalam konteks ini, alasan keamanan terutama terkait program nuklir Iran selama ini menjadi dasar legitimasi tekanan politik dan militer terhadap Teheran. Namun pertanyaannya, apakah konflik ini semata tentang nuklir? Ataukah isu tersebut menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di kawasan yang menjadi jantung ekonomi global?
Jika ditelusuri dalam konteks politik internasional, narasi sering kali lebih kuat daripada fakta lapangan. Istilah seperti “ancaman regional”, “destabilisasi”, atau “pencegahan proliferasi” tidak berdiri netral. Ia adalah bahasa kekuasaan yang membentuk legitimasi tindakan. Tentunya, pihak yang memiliki dominasi militer dan pengaruh media internasional memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan bagaimana dunia memaknai konflik. Akibatnya, perang bukan hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang opini publik global.
Hal yang sama terlihat dalam isu Palestina. Dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina sering dibingkai secara berbeda oleh berbagai kekuatan dunia. Di satu sisi, ia dilabeli sebagai ancaman keamanan. Di sisi lain, ia dipahami sebagai solidaritas terhadap bangsa yang masih hidup di bawah pendudukan. Oleh karena, perbedaan tafsir itu telah menunjukkan satu hal penting yakni konflik di Timur Tengah adalah perang senjata sekaligus perang makna.
Yang paling menyedihkan, seperti biasa adalah mereka yang tidak pernah benar-benar punya suara dalam konflik ini yaitu masyarakat sipil. Sebab setiap eskalasi perang selalu meninggalkan jejak kerusakan yang jauh melampaui korban jiwa. Infrastruktur publik hancur, sumber air bersih terganggu, kualitas udara memburuk, tanah tercemar, dan ruang hidup masyarakat porak-poranda. Di titik inilah menurut saya perang harus juga dibaca sebagai persoalan ekologis.
Betapa tidak, masyarakat lokal menjadi pihak yang paling menanggung biaya sosial dan lingkungan dari ambisi geopolitik negara-negara besar. Masyarakat sipil kehilangan rumah, mata pencaharian, akses pangan, dan rasa aman. Sementara aktor global tetap bergerak dalam orbit kepentingan strategisnya.
“Ironisnya, beban perang ini tidak berhenti di kawasan konflik”, hal ini terlihat ketika meningkatnya tensi di Selat Hormuz, maka hampir selalu memicu lonjakan harga minyak dunia. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan segera merasakan dampaknya antaralain harga energi naik, biaya logistik meningkat, inflasi pangan menguat, dan tekanan terhadap ekonomi nasional
_-_Copy.png)






_(1).png)

.jpg)

