Puasa, Takjil War, dan Politik Antrean yang Paling Jujur

By Redaksi 24 Feb 2026, 06:56:39 WIB Opini
Puasa, Takjil War, dan Politik Antrean yang Paling Jujur

Keterangan Gambar : Ilustrasi Takjil War


Agung Nugroho, Ketua Umum Rekan Indonesia.

Setiap Ramadhan, ada satu ruang publik yang bekerja tanpa teori besar, tanpa moderator, tanpa spanduk bertuliskan “Forum Kerukunan.” Namanya lapak takjil.

Menjelang maghrib, trotoar berubah jadi pasar kilat. Kolak pisang mendidih pelan seperti jam pasir cair. Es buah berkilau dalam plastik bening. Gorengan tersusun rapi, tampak seperti pasukan kecil yang siap dipinang.

Baca Lainnya :

    Di sanalah “takjil war” berlangsung. Dramatis dalam istilah, sederhana dalam praktik.

    Namun yang menarik bukan sekadar siapa paling cepat meraih bakwan terakhir. Yang lebih menarik adalah siapa saja yang ikut berdiri dalam antrean itu.

    Bukan hanya yang berpuasa. Warga non muslim juga hadir. Ikut memilih. Ikut menghitung uang receh. Ikut menimbang antara risoles atau pastel. Mereka datang bukan untuk mencampuri ibadah, melainkan untuk ikut berada dalam suasana sosial yang hidup.

    Di titik ini, Ramadhan berhenti menjadi peristiwa eksklusif. Ia berubah menjadi ekosistem sosial.

    Takjil memang identik dengan buka puasa. Tetapi lapak takjil adalah ruang ekonomi terbuka. Pedagang tidak pernah menanyakan motif spiritual pembeli. Yang ia tahu hanya satu: sore hari adalah momentum. Semua orang berhak membeli. Di sinilah politik antrean bekerja secara paling jujur.

    Antrean takjil tidak mengenal hierarki iman. Ia mengenal urutan kedatangan. Tidak ada jalur khusus. Tidak ada prioritas teologis. Siapa cepat, dia dapat. Siapa lambat, belajar sabar. Dan bagi yang berpuasa, justru di situlah latihannya.

    Sering kali ada celetukan setengah bercanda ketika gorengan terakhir dibeli oleh yang tidak berpuasa. Namun di balik tawa itu tersimpan pelajaran penting. Bahwa ruang publik tidak dibangun atas dasar klaim moral, melainkan atas kesepakatan hidup bersama.

    Warga non muslim yang ikut takjil war sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sederhana tapi signifikan: mereka tidak menjauh dari perayaan sosial mayoritas. Mereka memilih hadir. Ikut dalam denyutnya. Tanpa rasa terancam, tanpa rasa sungkan berlebihan.

    Sebaliknya, umat Islam yang menerima kehadiran itu tanpa kegelisahan juga sedang mempraktikkan kedewasaan sosial. Bahwa ibadah tetap khusyuk meski ruangnya terbuka. Bahwa kesalehan tidak rapuh hanya karena berbagi antrean.

    Ramadhan memang ibadah personal, tetapi suasananya selalu kolektif. Lampu jalan lebih ramai, masjid lebih hidup, pasar lebih riuh. Dalam konteks inilah takjil war menjadi semacam laboratorium toleransi paling membumi.

    Tidak ada pidato tentang pluralisme. Tidak ada deklarasi panjang soal keberagaman. Yang ada hanya transaksi sederhana dan percakapan ringan. Tetapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya kuat.

    Toleransi yang lahir dari teori sering terasa formal. Toleransi yang lahir dari antrean terasa alami.

    Takjil war menunjukkan satu hal penting: identitas bisa berbeda, tetapi selera terhadap kolak tetap universal. Kebutuhan untuk berkumpul tetap sama. Keinginan untuk menjadi bagian dari suasana tetap manusiawi.

    Dan bagi yang berpuasa, mungkin ini justru pengingat paling konkret bahwa menahan diri bukan berarti menutup ruang. Bahwa spiritualitas yang matang tidak takut berbagi meja.

    Pada akhirnya, takjil war bukan sekadar cerita tentang lapar yang menuntut kompensasi gula. Ia adalah cermin kecil bagaimana Indonesia bekerja dalam versi paling sehari hari.

    Di antara plastik bening berisi es dan gorengan hangat yang cepat habis, kita melihat sesuatu yang lebih dalam: keberagaman yang tidak diperdebatkan, melainkan dijalani.

    Sore itu, sebelum adzan berkumandang, bangsa ini sebenarnya sedang berlatih hidup bersama. Tanpa sadar. Tanpa panggung. Tanpa perlu menang.