- BRI BO Kramat Jati Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
- BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- BRI BO Gading Boulevard Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- Transaksi Kripto Menguat, Pelaku Industri Dukung OJK Perkuat Tata Kelola dan Literasi
- BRI Region 6 Gelar Donor Darah, Wujudkan Kepedulian dan Semangat Berbagi
- BRI BO Tanjung Priok Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Penuh Khidmat
- Angkutan Retail KAI Logistik Catat Kinerja Tertinggi pada Triwulan III 2026
- Zakat dan Sumbangan PMI: Berbeda Dasar Hukum, Tak Bisa Membenarkan Pemaksaan
- Zentara Melihat Perubahan Besar dalam Cara Perusahaan Mengelola Kerentanan Siber
Anis Matta: Dunia Sedang Berubah, Palestina Bisa Merdeka Lebih Cepat dari Perkiraan

Keterangan Gambar : Anis Matta, Ketum Partai Gelora
Bernusa.com. JAKARTA— Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta, menyampaikan pandangan menarik mengenai dinamika geopolitik global dalam program One on One TVOne yang ditayangkan kemarin malam, Minggu (31/5). Dalam wawancara tersebut, Anis menggambarkan perbedaan karakter Venezuela dan Iran melalui perumpamaan yang dekat dengan masyarakat Indonesia: durian dan kedondong.
Menurut Anis, Venezuela ibarat durian. Dari luar terlihat keras, rumit, dan penuh duri sehingga tampak sulit dihadapi. Namun ketika tekanan besar datang, negara itu relatif cepat melemah. Situasi berbeda ia gambarkan pada Iran yang diibaratkan seperti kedondong. Tampak tenang dan sederhana dari luar, tetapi memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat ketika menghadapi tekanan maupun serangan dari kekuatan besar dunia.
Ia menilai konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih berada dalam titik yang sulit diprediksi. Peluang menuju perdamaian maupun kemungkinan konflik berkepanjangan sama-sama terbuka. Di masing-masing pihak, baik kelompok yang menginginkan penyelesaian damai maupun yang mendukung konfrontasi masih memiliki pengaruh yang relatif seimbang.
Baca Lainnya :
- IRGC Ancam AS dan Israel: Iran Belum Gunakan Seluruh Kekuatan Militernya0
- Ketua Umum GAWAT: Penangkapan Jurnalis Adalah Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers0
- Reporter Tempo Ditahan Tentara Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza0
- Wali Kota New York: $500 juta dihabiskan setiap hari untuk kejahatan terhadap rakyat Iran dan Lebanon0
- Pengamat: Kecerdikan Iran Hadapi Tekanan Musuh Bertumpu pada Tiga Strategi Utama0
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Anis menilai banyak negara sedang berupaya mencari cara bertahan menghadapi perubahan dunia yang berlangsung cepat. Indonesia, menurutnya, juga menghadapi tantangan yang sama sehingga penguatan hubungan dengan berbagai negara strategis menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas nasional.
Meski situasi Timur Tengah masih memanas, Anis justru menunjukkan optimisme terhadap masa depan Palestina. Ia meyakini kemerdekaan Palestina dapat terwujud lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang. Pandangan itu didasarkan pada perubahan besar dalam cara dunia memandang konflik Palestina.
Menurut Anis, isu Palestina telah mengalami transformasi panjang. Jika dahulu hanya dianggap sebagai persoalan bangsa Arab, kemudian berkembang menjadi isu dunia Islam, kini Palestina telah menjadi isu kemanusiaan global yang melibatkan perhatian masyarakat lintas agama, bangsa, dan kawasan.
Ia menilai semakin besar serangan yang terjadi di Palestina, semakin besar pula gelombang solidaritas internasional yang muncul. Akibatnya, posisi Israel di mata publik dunia semakin menghadapi tekanan moral dan politik yang luas.
Anis juga memperkirakan Amerika Serikat pada akhirnya akan mengambil pendekatan yang lebih realistis terhadap konflik tersebut. Pertimbangan ekonomi, hubungan dengan negara-negara Arab, serta perubahan keseimbangan kekuatan global diyakini akan memengaruhi arah kebijakan Washington di masa mendatang.
Pandangan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase transisi menuju tatanan global baru. Pergeseran aliansi, perubahan pusat kekuatan ekonomi-politik, serta meningkatnya kesadaran kemanusiaan internasional menjadi tanda bahwa peta dunia yang lama perlahan sedang mengalami perubahan besar.
_-_Copy.png)



.jpg)





_(1).png)
