- Jelang Hari Anak Nasional, Ghost Buzzer Tawarkan Hiburan Keluarga dengan Nuansa Horor Edukatif
- Ketum Skiber Nyatakan Sikap Siap Mendukung Dan Mengawal Program Prabowo-Gibran Hingga Akhir Masa Jabatan 2029
- RISNU: Khitanan Massal di Ikuti 40 Anak Dari Berbagai Wilayah Sekitar Kalibata
- Ribuan Jamaah Meriahkan Pawai Obor dan Gempita Muharram 1448 H di Masjid Gurudin Kalibata
- PDMI Desak Kepastian Hukum bagi 1.023 Dokter Muda Retaker UKMPPD
- Wamenaker dan Desk Ketenagakerjaan Mabes Polri Tangani Sengketa PHK PT Amos Indah Indonesia.
- Acara Wisuda dan Rekreasi Renang PAUD Melati 08 Kalibata Berlangsung Ceria
- AHWA Jangan Kehilangan Ruh! PWNU DKI Serukan Kembali ke Qanun Asasi NU
- Pelibatan TNI Hadang Mahasiswa Demonstrasi Kemunduran Negara Demokrasi, KAMDAGRI Tanggung Jawab POLRI
- Gugum A. Ramdhani: Kesederhanaan Ali Khamenei Menjadi Teladan Kepemimpinan
Dua Dai Muda Nusantara di Sabilu Taubah: Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Saling Serang

Keterangan Gambar : Da’i Muda Nusantara
BERNUSA.COM: SURABAYA -Di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat yang sering mengeras di ruang publik, hadir dua da’i muda Nusantara yang memberi teladan indah tentang dakwah penuh kelembutan: Ustadz Nafi Unnas dan Gus Iqdam. Pertemuan mereka di majelis Sabilu Taubah bukan sekadar agenda ceramah, tetapi menjadi pesan kuat bahwa dakwah sejati adalah merangkul, bukan memukul; menenangkan, bukan menegangkan.
Keduanya menunjukkan bahwa seorang da’i bukan hakim yang memvonis, melainkan sahabat yang mengajak pulang. Dengan gaya yang sederhana dan bahasa yang dekat dengan umat, mereka menanamkan nilai bahwa Islam hadir sebagai rahmat. “Kita berdakwah untuk menumbuhkan cinta, bukan menambah luka,” pesan itu terasa hidup dari lisan mereka, mengalir lembut ke hati jamaah.
Di majelis tersebut, suasana penuh kehangatan terasa nyata. Tidak ada saling sindir, tidak ada saling serang. Yang ada adalah saling menghargai perbedaan. “Kalau berbeda, kita doakan. Kalau belum sepakat, kita tetap bersahabat,” ujar salah satu dari mereka dengan senyum yang menenangkan. Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran besar: dakwah tidak harus keras untuk sampai ke hati.
Baca Lainnya :
Mereka mengajarkan bahwa sesama dai bukan pesaing, melainkan saudara seperjuangan. Kita tidak dipanggil untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. “Kalau saudaramu jatuh, jangan kau injak. Ulurkan tanganmu,” nasihat itu mengingatkan bahwa ukhuwah lebih mulia daripada ego, dan persaudaraan lebih indah daripada perdebatan.
Dakwah penuh kasih sayang adalah kebutuhan umat hari ini. Masyarakat lelah dengan cercaan dan hujatan yang mengatasnamakan agama. Mereka rindu keteladanan yang menyejukkan. Kehadiran dua da’i muda ini menjadi bukti bahwa dakwah bisa tegas tanpa keras, bisa lurus tanpa menyakiti, bisa berbeda tanpa bermusuhan.
Kita semua belajar dari mereka bahwa menghargai adalah bentuk kedewasaan iman. Kita tidak harus sepakat dalam semua hal, tetapi kita wajib menjaga adab. “Jangan jadikan mimbar sebagai tempat mencaci, jadikan ia tempat menebar doa,” pesan itu layak kita pegang erat.
Semoga langkah para da’i muda Nusantara ini menginspirasi banyak hati. Semoga kita semua menjadi penebar semangat, bukan penyebar kebencian. Karena pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dalam cintanya. Dan di situlah kita menemukan makna sejati: saling menghargai, saling menguatkan, dan saling mendoakan di jalan Allah.
(Redho)
_-_Copy.png)








_(1).png)

