- BRI x Pelni Gelar Yoga Session, Perkuat Sinergi dan Wujudkan Work Life Balance
- BRI BO Artha Gading Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- BRI BO Kramat Jati Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
- BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- BRI BO Gading Boulevard Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
- Transaksi Kripto Menguat, Pelaku Industri Dukung OJK Perkuat Tata Kelola dan Literasi
- BRI Region 6 Gelar Donor Darah, Wujudkan Kepedulian dan Semangat Berbagi
- BRI BO Tanjung Priok Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Penuh Khidmat
- Angkutan Retail KAI Logistik Catat Kinerja Tertinggi pada Triwulan III 2026
Dua Dai Muda Nusantara di Sabilu Taubah: Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Saling Serang

Keterangan Gambar : Da’i Muda Nusantara
BERNUSA.COM: SURABAYA -Di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat yang sering mengeras di ruang publik, hadir dua da’i muda Nusantara yang memberi teladan indah tentang dakwah penuh kelembutan: Ustadz Nafi Unnas dan Gus Iqdam. Pertemuan mereka di majelis Sabilu Taubah bukan sekadar agenda ceramah, tetapi menjadi pesan kuat bahwa dakwah sejati adalah merangkul, bukan memukul; menenangkan, bukan menegangkan.
Keduanya menunjukkan bahwa seorang da’i bukan hakim yang memvonis, melainkan sahabat yang mengajak pulang. Dengan gaya yang sederhana dan bahasa yang dekat dengan umat, mereka menanamkan nilai bahwa Islam hadir sebagai rahmat. “Kita berdakwah untuk menumbuhkan cinta, bukan menambah luka,” pesan itu terasa hidup dari lisan mereka, mengalir lembut ke hati jamaah.
Di majelis tersebut, suasana penuh kehangatan terasa nyata. Tidak ada saling sindir, tidak ada saling serang. Yang ada adalah saling menghargai perbedaan. “Kalau berbeda, kita doakan. Kalau belum sepakat, kita tetap bersahabat,” ujar salah satu dari mereka dengan senyum yang menenangkan. Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran besar: dakwah tidak harus keras untuk sampai ke hati.
Baca Lainnya :
Mereka mengajarkan bahwa sesama dai bukan pesaing, melainkan saudara seperjuangan. Kita tidak dipanggil untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. “Kalau saudaramu jatuh, jangan kau injak. Ulurkan tanganmu,” nasihat itu mengingatkan bahwa ukhuwah lebih mulia daripada ego, dan persaudaraan lebih indah daripada perdebatan.
Dakwah penuh kasih sayang adalah kebutuhan umat hari ini. Masyarakat lelah dengan cercaan dan hujatan yang mengatasnamakan agama. Mereka rindu keteladanan yang menyejukkan. Kehadiran dua da’i muda ini menjadi bukti bahwa dakwah bisa tegas tanpa keras, bisa lurus tanpa menyakiti, bisa berbeda tanpa bermusuhan.
Kita semua belajar dari mereka bahwa menghargai adalah bentuk kedewasaan iman. Kita tidak harus sepakat dalam semua hal, tetapi kita wajib menjaga adab. “Jangan jadikan mimbar sebagai tempat mencaci, jadikan ia tempat menebar doa,” pesan itu layak kita pegang erat.
Semoga langkah para da’i muda Nusantara ini menginspirasi banyak hati. Semoga kita semua menjadi penebar semangat, bukan penyebar kebencian. Karena pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dalam cintanya. Dan di situlah kita menemukan makna sejati: saling menghargai, saling menguatkan, dan saling mendoakan di jalan Allah.
(Redho)
_-_Copy.png)



.jpg)





_(1).png)
