Front Aksi Menggugat Gelar Mimbar Bebas, Desil hingga Nasib Petani Jadi Sorotan

By Goenk1975 22 Sep 2026, 18:04:40 WIB Politik
Front Aksi Menggugat Gelar Mimbar Bebas, Desil hingga Nasib Petani Jadi Sorotan

Keterangan Gambar : Miftahul Firdaus, Ketua KPW Rekan Indonesia Sumsel


Bernusa.com. PALEMBANG — Angka desil tak selalu mampu bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga. Di balik klasifikasi sosial-ekonomi itu ada kebutuhan pangan, biaya berobat, pendidikan anak, hingga ongkos hidup yang terus berjalan.

Persoalan itu akan menjadi salah satu isu yang dibawa Front Aksi Menggugat dalam mimbar bebas untuk memperingati Hari Tani pada 24 September dan Hari Sungai pada 27 September.

Rekan Indonesia Sumatera Selatan menjadi salah satu organisasi yang tergabung dalam front tersebut. Ketua Kolektif Pimpinan Wilayah (KPW) Rekan Indonesia Sumatera Selatan, Miftahul Firdaus, mengatakan mimbar bebas tersebut disiapkan sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan atas berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka.

Baca Lainnya :

“Kehidupan rakyat jangan dipersempit menjadi angka-angka dalam klasifikasi desil. Di balik setiap angka ada manusia, ada keluarga, ada anak-anak, dan ada kebutuhan hidup yang nyata,” kata Miftahul Firdaus yang biasa di kenal dengan panggilan Avir.

Menurut Avir, persoalan desil tidak berhenti pada urusan statistik. Klasifikasi sosial-ekonomi tersebut digunakan dalam berbagai kebijakan, sehingga akurasi dan cara penggunaannya dapat berdampak terhadap masyarakat.

Avir mengatakan data memang diperlukan untuk menyusun kebijakan. Namun, data tidak semestinya membuat kondisi konkret masyarakat terabaikan.

“Jangan jadikan desil sebagai tembok yang menghalangi hak rakyat,” ujarnya.

Membawa Suara Kaum Tani

Front Aksi Menggugat juga menjadikan momentum Hari Tani sebagai ruang untuk mengangkat kembali persoalan kehidupan petani. Bagi Avir, peringatan Hari Tani tidak cukup berhenti pada seremoni.

Ia mengatakan suara petani perlu mendapat ruang dalam pembicaraan mengenai kebijakan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

“Peringatan Hari Tani harus menjadi momentum untuk mendengar suara kaum tani dan berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata dia.

Selain petani, kondisi sungai menjadi isu lain yang akan dibawa dalam mimbar bebas. Front Aksi Menggugat menyoroti sungai yang semakin tergerus serta persoalan perlindungannya.

Bagi Avir, sungai bukan sekadar bagian dari bentang alam. Keberadaannya berkaitan dengan kehidupan masyarakat, sehingga kerusakan sungai juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi.

“Sungai bukan hanya persoalan lingkungan. Sungai berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, persoalan sungai juga harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Mimbar bebas itu sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara terbuka. Rekan Indonesia, kata Avir, akan mengambil bagian sebagai salah satu organisasi yang tergabung dalam Front Aksi Menggugat.

“Mimbar bebas ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk datang dan menyuarakan opininya. Rakyat harus memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan,” kata Avir.

Isu yang dibawa Front Aksi Menggugat mempertemukan tiga persoalan: data dan hak sosial masyarakat, kehidupan kaum tani, serta perlindungan sungai. Ketiganya ditempatkan sebagai bagian dari perbincangan yang lebih besar tentang bagaimana kebijakan publik berhadapan dengan kehidupan rakyat sehari-hari.