Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jawa Timur, Rekan Indonesia Minta Dapur SPPG Diawasi Ketat

By Goenk1975 05 Sep 2026, 16:34:20 WIB Daerah
Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jawa Timur, Rekan Indonesia Minta Dapur SPPG Diawasi Ketat

Keterangan Gambar : Bagus Romadon, Ketua Rekan Indonesia Jatim


Bernusa.com. JATIM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot setelah sejumlah siswa dan santri di Jawa Timur dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan yang mereka santap. Kejadian itu disebut terjadi di Sidoarjo, Nganjuk, dan Jombang.

Informasi tersebut disampaikan Rekan Kesehatan Indonesia hari ini Sabtu, 5 September 2026 di Kediri, Jatim. Di Sidoarjo, kasus disebut bermula di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin. Jumlah korban yang tercantum dalam poster mencapai 664 santri dan siswa. 

Di Nganjuk, sedikitnya 170 orang disebut terdampak. Mereka terdiri atas siswa SMAN 3 Nganjuk dan sejumlah siswa sekolah dasar di sekitar wilayah tersebut. Makanan yang dikonsumsi disebut berasal dari SPPG Nganjuk Begadung 2. 

Baca Lainnya :

Adapun di Jombang, puluhan siswa SMPN 1 Kabuh disebut mengalami gejala serupa setelah menyantap menu MBG. 

Badan Gizi Nasional atau BGN bersama Dinas Kesehatan setempat disebut tengah menelusuri penyebab kejadian. Dengan demikian, dugaan keracunan itu belum dapat serta-merta disimpulkan sebagai akibat langsung dari makanan MBG sebelum hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium tersedia. 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan juga disebut meminta sekolah yang terdampak berkoordinasi dengan penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Distribusi menu terkait disebut dihentikan sementara untuk mengevaluasi keamanan pangan. 

Kasus ini menempatkan dapur SPPG dalam sorotan. Sebab, keamanan makanan dalam program berskala besar seperti MBG tidak hanya bergantung pada bahan pangan. Proses memasak, sanitasi, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi harus memenuhi standar keamanan pangan.

KPW Rekan Indonesia Jawa Timur meminta Dinas Kesehatan Jawa Timur dan instansi terkait memeriksa dapur SPPG yang memasok makanan kepada para siswa dan santri.

"Jika ditemukan pelanggaran, dapur SPPG harus ditutup sementara," kata Bagus Romadon, Ketua KPW Rekan Indonesia Jawa Timur. 

Menurut Rekan Indonesia, pengawasan perlu dilakukan secara serius agar program MBG tidak justru menimbulkan persoalan kesehatan baru bagi penerimanya. Organisasi itu juga menyerukan penelusuran tuntas terhadap penyebab kejadian, pemeriksaan kebersihan dapur, serta penguatan pengawasan keamanan pangan. 

Program MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, ketika muncul laporan banyak penerima mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan, persoalannya bukan sekadar soal distribusi. Keamanan makanan menjadi syarat utama yang tak boleh ditawar.

Jika hasil pemeriksaan nantinya menemukan pelanggaran, tindakan administratif maupun penghentian sementara operasional SPPG dapat menjadi bagian dari evaluasi. Namun, sebelum kesimpulan itu dibuat, penyebab kejadian tetap perlu dibuktikan melalui investigasi resmi.

Bagi program sebesar MBG, satu hal mestinya jelas: makanan bergizi tidak cukup hanya gratis. Ia juga harus aman.