- Tekuk Panama 5-3, Timnas Indonesia U-15 Melaju ke Perempat Final
- Pramono Anung Teratas di Mata Anak Muda, Integritas Jadi Ujian Utama
- Bitcoin Terancam Merah Dua Bulan Beruntun, Peluang Rebound Masih Terbuka?
- Jumat, 30 Oktober 2026 BIMA, Bahas Strategi dan Peran Pemuda Menuju Indonesia Emas
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Kick Off Sportartcular, Semarakkan Peringatan HUT ke-31 BRI
- Ketua Harian DPP Partai Ummat Heikal Safar Panen Raya Sekaligus Makan Siang Gratis Bersama Ratusan Petani Guna Ketahanan Pangan Nasional
- Netanyahu Terancam Kehilangan Mayoritas di Parlemen Israel
- Generasi Muda Vietnam Melangkah ke Panggung Global di Milan
- LA TRỊNH Atelier dan Sebuah Perjalanan yang Berawal dari Sebuah Mimpi
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Ajang Jakarta Financial Festival 2026
Bitcoin Terancam Merah Dua Bulan Beruntun, Peluang Rebound Masih Terbuka?

Keterangan Gambar : Bitcoin Terancam Merah Dua Bulan Beruntun, Peluang Rebound Masih Terbuka?
Harga Bitcoin (BTC) menghadapi potensi penurunan bulanan kedua berturut-turut pada Oktober 2026. Meski terkoreksi 4,10% sejak awal bulan, sejumlah indikator teknikal, perilaku investor, dan kondisi makroekonomi masih memberikan harapan bagi prospek jangka panjang aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Laporan internal FLOQ, mengidentifikasi empat sinyal yang masih mendukung prospek positif Bitcoin. Namun, indikator tersebut belum memastikan bahwa harga telah mencapai titik terendah.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi harga perlu dilihat bersama indikator pasar lainnya untuk memahami arah pergerakan Bitcoin.
Baca Lainnya :
- Jumat, 30 Oktober 2026 BIMA, Bahas Strategi dan Peran Pemuda Menuju Indonesia Emas0
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Kick Off Sportartcular, Semarakkan Peringatan HUT ke-31 BRI0
- Ketua Harian DPP Partai Ummat Heikal Safar Panen Raya Sekaligus Makan Siang Gratis Bersama Ratusan Petani Guna Ketahanan Pangan Nasional0
- Netanyahu Terancam Kehilangan Mayoritas di Parlemen Israel0
- Generasi Muda Vietnam Melangkah ke Panggung Global di Milan0
“Penurunan harga tidak selalu berarti tren jangka panjang telah berakhir. Namun, investor juga tidak sebaiknya terburu-buru menyimpulkan bahwa pasar sudah mencapai titik terendah. Penting untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda dan Bitcoin mampu mempertahankan level harga penting,” ucap Yudho.
Empat Sinyal yang Menopang Prospek Bitcoin
Sinyal pertama berasal dari analisis teknikal. Bitcoin tercatat diperdagangkan di sekitar US$79.935, atau sekitar 5% di atas rata-rata pergerakan harga 50 minggu yang berada di US$75.812. Level ini menjadi salah satu indikator untuk menilai apakah tren jangka panjang Bitcoin masih bertahan.
Kedua, pergerakan dana institusional menunjukkan gambaran yang beragam. Posisi net long manajer aset pada kontrak berjangka Bitcoin di CME turun sekitar 57% dari periode ketika Bitcoin mencapai rekor harga tertingginya. Namun, ETF Bitcoin spot Amerika Serikat dilaporkan telah menambah sekitar 87.000 BTC sejak titik terendah harga pada Juni 2026.
Ketiga, data on-chain menunjukkan perubahan perilaku investor. Glassnode mencatat sekitar 70% suplai Bitcoin milik pemegang jangka pendek masih berada dalam posisi untung, lebih rendah dibandingkan akhir September. Sementara itu, Santiment melaporkan jumlah dompet Bitcoin nonkosong berkurang sekitar 30.000 sejak 16 Oktober. Kondisi ini dapat mengindikasikan berkurangnya minat sebagian investor ritel, meski belum cukup untuk memastikan tekanan jual telah berakhir.
Keempat, kondisi fiskal Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Utang pemerintah federal AS mencapai US$40,44 triliun pada 20 Oktober 2026, dengan defisit anggaran tahun fiskal 2026 sebesar US$1,99 triliun. Dalam jangka panjang, kekhawatiran terhadap inflasi dan daya beli mata uang fiat dapat memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset dengan suplai terbatas. Namun, faktor ini tidak secara otomatis mendorong kenaikan harga dalam waktu dekat.
Menurut Yudho, keempat indikator tersebut perlu dibaca secara bersamaan, bukan dijadikan dasar tunggal untuk mengambil keputusan investasi.
“Prospek Bitcoin dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari struktur harga, arus dana institusional, perilaku investor, hingga kebijakan ekonomi global. Ketika beberapa indikator mulai membaik, itu bisa menjadi sinyal yang perlu dicermati, tetapi konfirmasi dari pergerakan pasar tetap penting,” jelasnya.
November Jadi Penentu Momentum Berikutnya
Secara historis, November cenderung menjadi bulan positif bagi Bitcoin. Data CoinGlass yang menunjukkan Bitcoin mencatatkan kenaikan pada sekitar 63% bulan November sejak 2010, dengan median kenaikan sebesar 10,26%.
Namun, pola tersebut tidak selalu berlaku setelah Oktober berakhir negatif. Dalam lima tahun ketika Bitcoin mengalami penurunan pada Oktober, harga hanya naik pada dua November berikutnya. Pada tahun sebelumnya, penurunan 3,95% pada Oktober bahkan diikuti koreksi 17,49% pada November.
Dalam jangka pendek, Santiment menilai penurunan berkelanjutan di bawah US$79.000 dapat menunda konfirmasi terbentuknya dasar harga. Sebaliknya, kenaikan kembali di atas US$82.500 dapat memperkuat indikasi pemulihan.
“Bitcoin masih memiliki sejumlah indikator yang mendukung prospek jangka panjang, tetapi risiko koreksi tetap ada. Investor perlu memperhatikan kemampuan harga bertahan di area dukungan serta perkembangan kondisi makroekonomi sebelum menilai apakah momentum pemulihan benar-benar terbentuk,” tutup Yudho.
_-_Copy.png)









_(1).png)
