Buka Puasa Alumnus PRD Jabodetabek
Angkat Tema Ramadhan Bulan Pembebasan Perempuan

By Agung Nugroho 09 Mar 2026, 09:23:31 WIB DKI Jakarta
Buka Puasa Alumnus PRD Jabodetabek

Keterangan Gambar : Bukber Alumnus PRD Jabodetabek


JAKARTA, — Sejumlah aktivis yang pernah terlibat dalam gerakan sosial berkumpul dalam acara buka puasa bersama alumnus PRD Jabodetabek yang digelar di Kalia Restauran, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (8/3/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut mengangkat tema “Ramadhan: Bulan Pembebasan Perempuan.”

Acara ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret. Para peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi mengenai nilai-nilai Ramadhan yang dikaitkan dengan perjuangan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.

Sejumlah tokoh dan aktivis hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ilhamsyah, Fredy Tambunan, Ki Joyo Sardo, Asep Nurdin, Nurdin, Suroso, Ken Budha Kusumandaru, Gugum Awit Ramdhani, Parjono, Heru, Junaedi, Agung Nugroho, Irfan, Ventris, Ronny, Ivan, Jawon, Toge, Alfan, serta Maryadi yang datang langsung dari Karawang.

Baca Lainnya :

Dalam diskusi yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa, Ilhamsyah yang saat ini menjadi pengurus DPP Partai Buruh mengatakan bahwa Ramadhan memiliki pesan sosial yang kuat terkait keadilan dan keberpihakan kepada kelompok yang mengalami ketidakadilan.

“Puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga mengandung pesan sosial. Ramadhan mengajarkan empati kepada mereka yang tertindas. Dalam konteks hari ini, perjuangan pembebasan perempuan merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial,” kata Ilhamsyah.

Sementara itu, Ki Joyo Sardo, yang saat ini dikenal sebagai ahli kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), menilai perkembangan teknologi juga memiliki implikasi terhadap isu keadilan sosial, termasuk kesetaraan gender.

Menurut dia, teknologi digital dan sistem berbasis algoritma harus dikembangkan dengan perspektif kemanusiaan agar tidak memperkuat bias atau diskriminasi terhadap kelompok tertentu, termasuk perempuan.

“Perkembangan teknologi seperti AI seharusnya membantu memperluas akses dan keadilan. Tanpa perspektif sosial, teknologi justru berpotensi mereproduksi ketimpangan yang sudah ada di masyarakat,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Rekan Indonesia Agung Nugroho menekankan bahwa kondisi perempuan dalam masyarakat merupakan salah satu indikator penting kemajuan sebuah peradaban.

Ia mengatakan perjuangan kesehatan masyarakat, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat tidak dapat dilepaskan dari upaya memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan.

“Jika perempuan masih mengalami diskriminasi, kekerasan, atau keterbatasan akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, maka masyarakat itu belum sepenuhnya adil,” kata Agung.

Diskusi berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban. Selain membahas isu sosial terkini, para peserta juga saling bertukar pandangan mengenai perkembangan gerakan sosial di Indonesia.

Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama saat waktu magrib tiba. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kembali jaringan silaturahmi sekaligus menjadi ruang refleksi mengenai nilai-nilai keadilan sosial yang sejalan dengan semangat Ramadhan.