Israel, Korea Utara, dan Bahasa Politik Global

By Agung Nugroho 06 Mar 2026, 04:33:05 WIB Opini
Israel, Korea Utara, dan Bahasa Politik Global

Keterangan Gambar : Kim Jong Un, Presiden Korea Utara


Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.

Pernyataan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang menyebut Israel sebagai “proyek teror buatan” yang didukung oleh Amerika Serikat kembali memantik perdebatan di panggung internasional. Pernyataan yang dirilis pada Desember 2025 itu bukan sekadar komentar spontan dalam pusaran konflik Timur Tengah, melainkan cerminan dari posisi ideologis yang telah lama dipegang oleh Korea Utara terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Sejak lama, Pyongyang tidak pernah mengakui Israel sebagai negara berdaulat. Dalam narasi resmi negara tersebut, konflik global kerap dibingkai sebagai pertarungan antara kekuatan imperialis dan negara-negara yang menolak dominasi Barat. Dalam kerangka itu pula, Korea Utara sering menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina, sembari mengkritik keterlibatan Amerika Serikat dalam berbagai konflik geopolitik.

Baca Lainnya :

Pernyataan Kim Jong Un sebenarnya tidak mengubah banyak hal dalam peta kebijakan internasional. Tidak ada langkah diplomatik baru, tidak pula kebijakan konkret yang langsung menyusul setelah komentar tersebut. Namun retorika semacam ini tetap memiliki arti penting dalam politik global. Ia memperlihatkan bagaimana konflik di Timur Tengah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terhubung dengan pertarungan narasi di tingkat internasional.

Di satu sisi, Israel selama ini dipandang oleh sekutu-sekutu Barat sebagai negara berdaulat yang berhak mempertahankan diri. Di sisi lain, sebagian negara dan kelompok politik melihat keberadaan Israel sebagai produk dari konfigurasi geopolitik pasca-Perang Dunia II yang sangat dipengaruhi oleh kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat.

Perbedaan cara pandang inilah yang membuat konflik Israel–Palestina tidak pernah menjadi sekadar konflik regional. Ia berubah menjadi simbol pertarungan ideologis yang lebih luas, melibatkan isu kolonialisme, kedaulatan, hingga dominasi politik global.

Dalam konteks itu, pernyataan Kim Jong Un dapat dipahami sebagai bagian dari retorika politik yang bertujuan menegaskan posisi Korea Utara dalam peta geopolitik dunia. Bagi Pyongyang, kritik terhadap Amerika Serikat dan sekutunya merupakan elemen penting dalam membangun identitas politiknya sebagai negara yang menentang hegemoni Barat.

Namun di luar retorika tersebut, realitas politik global jauh lebih kompleks. Konflik Israel–Palestina bukan hanya persoalan narasi ideologis, melainkan juga tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Karena itu, perdebatan global mengenai konflik ini semestinya tidak berhenti pada pertukaran retorika keras antarnegara. Yang lebih mendesak adalah bagaimana komunitas internasional mampu mendorong solusi politik yang adil, berkelanjutan, dan menghormati hak hidup semua pihak di kawasan tersebut.

Pernyataan Kim Jong Un mungkin tidak mengubah arah politik dunia. Namun ia mengingatkan kita pada satu hal penting: bahwa konflik di Timur Tengah telah menjadi cermin dari polarisasi global yang semakin tajam. Di tengah situasi seperti ini, suara yang mendorong perdamaian justru sering kali tenggelam oleh gema retorika geopolitik yang saling berhadapan. ????✨