Terkini
- KBSI dan FBTPI–KPBI Luncurkan Posko Pengaduan THR
- PRSI dan Wapres Gibran Tinjau Proyek Robotik Santri di Pesantren Baitul Arqom Bandung
- Netanyahu dan Arah Politik Luar Negeri Amerika
- Cegah Genangan dan Banjir, PLN UID Jakarta Raya Salurkan Bantuan Sanitasi di Jakarta Selatan
- Persatuan Perempuan Sidoarjo Berbagi Takjil dan Suarakan Perdamaian Untuk Pimpinan Sidoarjo
- Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution Tinjau Langsung Pengamanan Cap Go Meh di Klenteng Kim Hin Kiong
- Charly Van Houten Meriahkan Buka Puasa Ayo Jaga Jakarta, 100 Yatim Terima Bingkisan
- Bukber Bareng Kapolresta Banyuwangi dan Insan Pers Mewarnai Keindahan Ballroom Hotel Kokoon Banyuwangi
- Nekat Curi Motor di Duduksampeyan, Pria Asal Surabaya Lompat ke Truk Trailer Hingga Akhirnya Ditangkap Warga
- Gagal Bereskan Masalah Sampah yang Menahun, August PSI Tegur Pramono di Rapat Paripurna DPRD
Netanyahu dan Arah Politik Luar Negeri Amerika

Keterangan Gambar : Netanyahu dan Arah Politik Luar Negeri Amerika
Oleh : Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.
Demokrasi Amerika Serikat sering dipresentasikan sebagai model ideal. Presiden dipilih rakyat, anggota Kongres dipilih rakyat, dan arah kebijakan negara secara teori lahir dari kehendak pemilih. Namun dalam isu Timur Tengah, khususnya terkait Israel dan Palestina, muncul pertanyaan yang semakin sulit diabaikan: sejauh mana kebijakan luar negeri Amerika benar-benar mencerminkan suara rakyatnya sendiri?
Nama Benjamin Netanyahu hampir selalu muncul dalam perdebatan ini. Perdana Menteri Israel tersebut bukan hanya tokoh dominan dalam politik domestik negaranya, tetapi juga figur yang memiliki pengaruh kuat dalam dinamika politik Washington. Dalam banyak momen penting, sikap pemerintah Amerika terhadap Timur Tengah sering terlihat sejalan dengan agenda keamanan dan politik yang didorong oleh Netanyahu.
Hubungan strategis antara Amerika Serikat dan Israel memang telah terbangun selama puluhan tahun. Kerja sama militer, dukungan intelijen, serta kedekatan diplomatik membuat kedua negara sering disebut sebagai sekutu utama di kawasan. Di dalam negeri Amerika sendiri, kekuatan lobi pro-Israel memainkan peran signifikan dalam menjaga konsensus politik tersebut. Salah satu organisasi yang paling berpengaruh adalah American Israel Public Affairs Committee, yang selama bertahun-tahun aktif membangun dukungan bipartisan terhadap Israel di Kongres.
Dalam praktiknya, jaringan politik dan dukungan finansial dalam sistem pendanaan kampanye Amerika membuat dukungan terhadap Israel hampir selalu menjadi posisi arus utama di Washington. Tidak mengherankan jika setiap kali konflik di Gaza memanas, dukungan militer dan diplomatik Amerika kepada Israel tetap berjalan, bahkan ketika kritik internasional semakin keras.
Namun dinamika ini tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik di dalam negeri Amerika. Salah satu suara paling vokal datang dari Bernie Sanders. Melalui berbagai pernyataan publik dan unggahan di media sosial, Sanders secara terbuka mengkritik kebijakan Washington yang terus memberikan bantuan militer kepada pemerintah Israel.
Dalam salah satu pernyataannya, Sanders menulis bahwa Netanyahu menuntut miliaran dolar untuk menghancurkan Jalur Gaza dan Washington terus mengabulkannya. Kritik tersebut mencerminkan kegelisahan sebagian kalangan di Amerika yang merasa bahwa kebijakan luar negeri negaranya terlalu mudah mengikuti agenda politik pemerintah Israel.
Kekhawatiran itu semakin menguat ketika ketegangan antara Israel dan Iran meningkat. Setiap dorongan konfrontasi dari pemerintah Israel kerap diikuti dengan sikap keras dari Washington terhadap Teheran. Bagi sebagian pengamat, pola ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara agenda keamanan Israel dan arah kebijakan Amerika di kawasan.
Sementara itu, opini publik Amerika sendiri tidak lagi sepenuhnya seragam. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda dan mahasiswa, kritik terhadap kebijakan Israel terhadap Palestina semakin terbuka.
Demonstrasi di berbagai kampus Amerika menunjukkan bahwa perdebatan mengenai hubungan Washington dan Tel Aviv semakin mengemuka di ruang publik.
Namun dalam sistem politik Amerika, opini publik tidak selalu segera berubah menjadi kebijakan negara.
Struktur pendanaan politik, kekuatan kelompok lobi, serta kepentingan strategis di kawasan sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.
Di titik inilah paradoks demokrasi Amerika muncul. Rakyat tetap memilih presiden dan anggota Kongres, tetapi dalam isu tertentu arah kebijakan sering bergerak dalam orbit yang sangat sulit diubah.
Karena itu, perdebatan mengenai sejauh mana pengaruh Netanyahu dalam membentuk arah kebijakan luar negeri Amerika kemungkinan akan terus berlangsung.
Selama hubungan strategis antara Washington dan Tel Aviv tetap berada pada tingkat kedekatan seperti sekarang, pertanyaan tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari diskusi politik global.
_-_Copy.png)





_(1).png)

.jpg)

