- Menkop Tekankan Koperasi di Luwu Timur Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan
- 12 Tahun Waskita Beton Precast, Menata Fondasi, Meningkat Lebih Tinggi
- Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan
- Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Akan Dioperasikan dengan Tarif Mulai 14 Oktober 2026 Pukul 00:00 WIB
- Tokenized Stocks Tembus US$3 Miliar, Akses Saham AS Makin Diminati Investor Indonesia
- LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS \'Naik Kelas\'
- AI Tidak Cukup untuk Menghapus Kemiskinan Jakarta
- OCBC Syariah dan Rumah Wakaf Salurkan Wakaf untuk Dukung Pendidikan & Keterampilan Siswa di Pelosok Garut
- Musim Hujan Mundur ke Desember, Jadwal Kirim Material Proyek Ikut Bergeser
- Ketua Harian Partai Ummat Dukung Kapolri Dan Test Narkoba Seluruh Pegawai Negeri, Pejabat Negara, Dan Wakil Rakyat Di Seluruh Indonesia
Konflik Yayasan Amurva Bhumi Karet Dengan Pengurus Umat Memasuki Ranah Hukum

Konflik Yayasan Amurva Bhumi Karet Dengan Pengurus Umat Memasuki Ranah Hukum
JAKARTA, Direktur Forum Buddhis Indonesia, Adian Radiatus mengatakan Citra nama baik Kelenteng atau Wihara Amurva Bhumi - Karet kembali ternoda oleh adanya perilaku pihak Yayasan yang semena-mena dalam menentukan Pengurus atau Perawat Kelenteng yang lazim disebut Lo Cu karena proses pemilihan tidak lazim sesuai tata ritual yang bernama Pa Pue dan Sio Pue, dihadapan altar suci Dewa atau Kong Co di ruang sembahyang.
Lanjut,Adian Radiatus melalui Forum Peduli Wihara Amurva Bhumi yang sejak setahun lalu telah mencoba mencari jalan penyelesaian atas berbagai konflik yang ditimbulkan akibat kebijakan dan cara-cara pengelolaan oleh pengurus agar yang dinamai para Lo Cu dipilih sesuai etika dan tata keagamaan yang lazim berlaku secara tradisi peribadatan.
Baca Lainnya :
- Ketum Eka Jaya: Milad Ormas Pejabat Ke- 6, Insya Allah di Hadiri Anies Rasyied Baswedan dan Pramono Anung0
- Tomkur: Optimalkan Belanja Negara untuk Percepat Perputaran Ekonomi Rakyat0
- Ruslan Israpilov Korban Postingan Di Medsos Lapor Ke Polisi Dugaan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik0
- Dorong Ekonomi Maritim, Pemerintah Bangun SPBU Nelayan Dikelola Koperasi0
- Sinergi PRSI dan Pemerintah Wujudkan Pemerataan Pembelajaran Robotika Nasional0
"Pihak Yayasan senantiasa berkilah telah sesuai aturan sementara ada umat atau Lo Cu yang telah berdedikasi puluhan tahun terabaikan dengan sikap arogansi ketua dan oknum di yayasan. Patut disayangkan." Kata Adian Radiatus kepada wartawan di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Menurut Adian Radiatus, Adalah ketua bagian dapur (Seksi Dapur), ibu Tan Goat Eng, seorang umat yang telah mendedikasikan dirinya mengurus segala kebutuhan konsumsi makanan umat termasuk para pengurus yayasan selama bertahun-tahun dan tentunya dengan sangat baik dan terkadang melebihi espektasi umat dalam hidangan yang disiapkannya, tak dinyana harus menerima Surat Somasi dari kantor pengacara yang ditunjuk Yayasan agar tidak lagi mengurus dapur.
"Tentu saja selain memalukan dan membuat aib terhadap nama baik Wihara juga mencerminkan betapa arogansinya pengurus Yayasan yang seakan Wihara sebagai milik pribadi semata-mata." ujar Adian Radiatus
Lanjut Adian Radiatus bayangkan saja seorang kepala dapur bukanlah orang yang bisa diperlakukan semaunya oleh oknum Yayasan apalagi lewat pengacara yang suratnya sangat merendahkan dan berpotensi melakukan tindakan penghinaan menyoal kesehatannya.
"Lagipula persoalan ini sesungguhnya adalah persoalan intern antara oknum Yayasan dengan ibu Tan Goat Eng, sehingga menunjuk pengacara untuk "mengusir" Pengurus lain tidaklah beretika keagamaan." ungkap Adian Radiatus
Lebih jauh Adian Radiatus menjelaskan sementara itu dalam surat kuasa yang dilampirkan tercantum biaya pengacara dimaksud sebesar Rp 5 Juta rupiah per bulan yang notabene ini adalah uang dana kebajikan dari umat untuk kembali kepada pembinaan umat dan pemeliharaan Wihara, bukan malah membayar pihak luar untuk menyerang kehormatan umat pengurus dapur tersebut dan lainnya.
Menurut Adian Radiatus dalam konteks ini, maka pihak pengacara diharapkan kesadarannya untuk tidak ikut mencampuri urusan intern antar Umat Pengurus Yayasan dan Umat Pengurus Kelenteng Wihara Amurva Bhumi Karet ini.
"Jangan malah karena dibayar lantas boleh semaunya ikut campur urusan internal yang seyogianya dapat menempuh jalur kekeluargaan dan keagamaan, baik melalui Lembaga Bimas Buddha Jakarta atau Bidang Bintal Provinsi Jakarta." pungkasnya
Editor : (RED/AR)
_-_Copy.png)




.jpg)




_(1).png)
