- Infrastruktur Terus Dikebut, TMMD Depok Optimistis Selesai Tepat Waktu
- RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota
- Makalah Sedekah dan Hibah Tugas Kampus Alhikmah Jakarta
- Menhan Sjafrie Menerima Kunjungan Pejabat Baru dari Kedubes Palestina, Perkuat Kerja Sama
- Kado Bulan K3, Menaker Gratiskan Pembinaan Ahli K3 Umum
- Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti
- Belum Genap 2 Bulan, Jalan Aspal BKKD Rp1,8 Miliar di Desa Ngampal Sumberrejo Bojonegoro Sudah Tambal Sulam
- Menkop: Ekspor Manggis Oleh Koperasi Produsen Upland Subang Farm Bukti Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa
- August PSI Kritik Langkah Pramono Impor 3.100 Sapi Dari Australia
- Relawan ILS Berencana Menambal Jalan Berlubang di Kemasan Krian
Konflik Yayasan Amurva Bhumi Karet Dengan Pengurus Umat Memasuki Ranah Hukum

Konflik Yayasan Amurva Bhumi Karet Dengan Pengurus Umat Memasuki Ranah Hukum
JAKARTA, Direktur Forum Buddhis Indonesia, Adian Radiatus mengatakan Citra nama baik Kelenteng atau Wihara Amurva Bhumi - Karet kembali ternoda oleh adanya perilaku pihak Yayasan yang semena-mena dalam menentukan Pengurus atau Perawat Kelenteng yang lazim disebut Lo Cu karena proses pemilihan tidak lazim sesuai tata ritual yang bernama Pa Pue dan Sio Pue, dihadapan altar suci Dewa atau Kong Co di ruang sembahyang.
Lanjut,Adian Radiatus melalui Forum Peduli Wihara Amurva Bhumi yang sejak setahun lalu telah mencoba mencari jalan penyelesaian atas berbagai konflik yang ditimbulkan akibat kebijakan dan cara-cara pengelolaan oleh pengurus agar yang dinamai para Lo Cu dipilih sesuai etika dan tata keagamaan yang lazim berlaku secara tradisi peribadatan.
Baca Lainnya :
- Ketum Eka Jaya: Milad Ormas Pejabat Ke- 6, Insya Allah di Hadiri Anies Rasyied Baswedan dan Pramono Anung0
- Tomkur: Optimalkan Belanja Negara untuk Percepat Perputaran Ekonomi Rakyat0
- Ruslan Israpilov Korban Postingan Di Medsos Lapor Ke Polisi Dugaan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik0
- Dorong Ekonomi Maritim, Pemerintah Bangun SPBU Nelayan Dikelola Koperasi0
- Sinergi PRSI dan Pemerintah Wujudkan Pemerataan Pembelajaran Robotika Nasional0
"Pihak Yayasan senantiasa berkilah telah sesuai aturan sementara ada umat atau Lo Cu yang telah berdedikasi puluhan tahun terabaikan dengan sikap arogansi ketua dan oknum di yayasan. Patut disayangkan." Kata Adian Radiatus kepada wartawan di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Menurut Adian Radiatus, Adalah ketua bagian dapur (Seksi Dapur), ibu Tan Goat Eng, seorang umat yang telah mendedikasikan dirinya mengurus segala kebutuhan konsumsi makanan umat termasuk para pengurus yayasan selama bertahun-tahun dan tentunya dengan sangat baik dan terkadang melebihi espektasi umat dalam hidangan yang disiapkannya, tak dinyana harus menerima Surat Somasi dari kantor pengacara yang ditunjuk Yayasan agar tidak lagi mengurus dapur.
"Tentu saja selain memalukan dan membuat aib terhadap nama baik Wihara juga mencerminkan betapa arogansinya pengurus Yayasan yang seakan Wihara sebagai milik pribadi semata-mata." ujar Adian Radiatus
Lanjut Adian Radiatus bayangkan saja seorang kepala dapur bukanlah orang yang bisa diperlakukan semaunya oleh oknum Yayasan apalagi lewat pengacara yang suratnya sangat merendahkan dan berpotensi melakukan tindakan penghinaan menyoal kesehatannya.
"Lagipula persoalan ini sesungguhnya adalah persoalan intern antara oknum Yayasan dengan ibu Tan Goat Eng, sehingga menunjuk pengacara untuk "mengusir" Pengurus lain tidaklah beretika keagamaan." ungkap Adian Radiatus
Lebih jauh Adian Radiatus menjelaskan sementara itu dalam surat kuasa yang dilampirkan tercantum biaya pengacara dimaksud sebesar Rp 5 Juta rupiah per bulan yang notabene ini adalah uang dana kebajikan dari umat untuk kembali kepada pembinaan umat dan pemeliharaan Wihara, bukan malah membayar pihak luar untuk menyerang kehormatan umat pengurus dapur tersebut dan lainnya.
Menurut Adian Radiatus dalam konteks ini, maka pihak pengacara diharapkan kesadarannya untuk tidak ikut mencampuri urusan intern antar Umat Pengurus Yayasan dan Umat Pengurus Kelenteng Wihara Amurva Bhumi Karet ini.
"Jangan malah karena dibayar lantas boleh semaunya ikut campur urusan internal yang seyogianya dapat menempuh jalur kekeluargaan dan keagamaan, baik melalui Lembaga Bimas Buddha Jakarta atau Bidang Bintal Provinsi Jakarta." pungkasnya
Editor : (RED/AR)
_-_Copy.png)






_(1).png)

.jpg)

