KPBI: Buruh Bukan Alat Produksi
Sopir Trailer PT TBA Bertahan Hampir Dua Bulan di Tenda Perjuangan

By Goenk1975 24 Mei 2026, 04:32:51 WIB DKI Jakarta
KPBI: Buruh Bukan Alat Produksi

Keterangan Gambar : Sopir Trailer PT TBA Bertahan Hampir Dua Bulan di Tenda Perjuangan


JAKARTA — Perjuangan anggota Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI)–KPBI di PT TBA terus berlanjut. Hampir dua bulan lamanya para sopir trailer bertahan di tenda perjuangan setelah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak akibat memperjuangkan perbaikan Tunjangan Hari Raya (THR).

Mereka adalah para pekerja yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung distribusi dan logistik perusahaan. Sebagian telah bekerja sejak perusahaan hanya memiliki beberapa unit trailer hingga berkembang menjadi perusahaan dengan ratusan armada.

Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, Ilhamsyah, menilai tindakan perusahaan mencerminkan masih kuatnya praktik ketidakadilan di sektor angkutan dan logistik.

Baca Lainnya :

“Para sopir ini ikut membangun perusahaan, ikut membesarkan perusahaan, dan ikut menghasilkan keuntungan. Tetapi ketika mereka meminta hak yang layak, justru di-PHK secara sepihak. Ini bentuk arogansi yang masih sering terjadi terhadap buruh transportasi,” ujar Ilhamsyah dalam keterangannya.

Menurutnya, tuntutan para pekerja sebenarnya sangat sederhana. Menjelang Lebaran, mereka meminta adanya perbaikan nilai THR yang selama ini hanya berkisar Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta, di tengah beban hidup yang semakin berat.

Namun alih-alih memenuhi tuntutan tersebut, perusahaan justru memberhentikan seluruh anggota dan pengurus serikat yang terlibat dalam perjuangan itu.

Ilhamsyah juga menyoroti kondisi kerja sopir trailer yang dinilai jauh dari kata layak. Ia menyebut banyak sopir bekerja nyaris tanpa batas waktu, bahkan hingga 24 jam sehari, tanpa kepastian upah bulanan yang layak, tanpa upah lembur, BPJS, maupun hak normatif lainnya.

“Banyak sopir diperlakukan seperti alat produksi, bukan manusia. Ketika kecelakaan terjadi, sering kali sopir pula yang dipaksa menanggung kerugian. Tenaga mereka diperas, tetapi hak-haknya diabaikan,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kenyataan pahit yang masih dialami banyak pekerja transportasi di Indonesia.

Meski tekanan ekonomi terus menghantam para buruh dan keluarga mereka, KPBI meminta seluruh anggota tetap bertahan dan menjaga solidaritas perjuangan.

“Saya tahu perjuangan ini berat. Ada keluarga yang harus dinafkahi, ada anak yang harus sekolah, dan kebutuhan hidup yang terus berjalan. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa hak tidak pernah datang karena belas kasihan. Hak lahir dari perjuangan,” tegas Ilhamsyah.

Bagi para buruh, tenda perjuangan yang kini berdiri bukan sekadar tempat berteduh. Tenda itu telah menjadi simbol harga diri dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka alami.

“Buruh tidak akan selamanya diam diperlakukan semena-mena. Solidaritas adalah kekuatan utama kita,” tutupnya.