- Menkop Tekankan Koperasi di Luwu Timur Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan
- 12 Tahun Waskita Beton Precast, Menata Fondasi, Meningkat Lebih Tinggi
- Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan
- Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Akan Dioperasikan dengan Tarif Mulai 14 Oktober 2026 Pukul 00:00 WIB
- Tokenized Stocks Tembus US$3 Miliar, Akses Saham AS Makin Diminati Investor Indonesia
- LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS \'Naik Kelas\'
- AI Tidak Cukup untuk Menghapus Kemiskinan Jakarta
- OCBC Syariah dan Rumah Wakaf Salurkan Wakaf untuk Dukung Pendidikan & Keterampilan Siswa di Pelosok Garut
- Musim Hujan Mundur ke Desember, Jadwal Kirim Material Proyek Ikut Bergeser
- Ketua Harian Partai Ummat Dukung Kapolri Dan Test Narkoba Seluruh Pegawai Negeri, Pejabat Negara, Dan Wakil Rakyat Di Seluruh Indonesia
Nakes Bukan Tumbal: Tolak Vaksin TB 2030.

Keterangan Gambar : Tolak Vaksinasi TB 2030
Oleh Agung Nugroho, Ketua Umum Rekan Indonesia.
Wacana vaksinasi tuberkulosis (TB) menuju tahun 2030 kembali menguat sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit menular di Indonesia. Pemerintah menempatkan program ini sebagai langkah penting dalam menekan angka penularan. Namun, di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana kebijakan ini benar-benar berangkat dari kebutuhan nasional, dan bukan sekadar respons terhadap dinamika kesehatan global?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika tenaga kesehatan (nakes) disebut sebagai kelompok awal dalam pelaksanaan. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai bentuk perlindungan bagi kelompok berisiko tinggi. Namun, di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa nakes justru menjadi pihak pertama yang menanggung risiko dari kebijakan yang belum sepenuhnya ditopang oleh kemandirian sistem kesehatan nasional.
Baca Lainnya :
- Antrean Boleh Digital, Hak Layanan Tetap Universal0
- RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota0
- Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti0
- Manfaatkan AI hingga IoT, BRI Life Dinobatkan sebagai Perusahaan Asuransi Digital Terbaik 20250
- Kadin Dorong Ekonomi Hijau, Adhi Industri Siapkan Teknologi Waste to Energy Skala Nasional0
Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa fondasi sektor kesehatan Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan. Ketergantungan pada impor bahan baku farmasi, keterbatasan kapasitas riset dalam negeri, serta belum optimalnya produksi vaksin nasional menunjukkan bahwa kedaulatan kesehatan belum sepenuhnya terbangun. Dalam situasi seperti ini, implementasi vaksinasi berskala besar berpotensi memperkuat ketergantungan, alih-alih menguranginya.
Di tingkat global, peran industri dan lembaga filantropi kesehatan juga tidak dapat diabaikan. Figur seperti Bill Gates melalui berbagai inisiatif memiliki pengaruh dalam pendanaan dan arah pengembangan vaksin. Peran tersebut, di satu sisi, mendorong percepatan inovasi, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan mengenai posisi tawar negara berkembang dalam menentukan kebijakan kesehatannya sendiri.
Dalam konteks ini, muncul pula berbagai kecurigaan di tengah masyarakat, termasuk narasi mengenai adanya agenda tersembunyi, seperti depopulasi global. Terlepas dari dapat dibuktikan atau tidaknya klaim tersebut, kemunculan narasi ini menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yakni belum kuatnya transparansi dan komunikasi publik dalam kebijakan kesehatan.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik. Ketika pemerintah tidak mampu menghadirkan keterbukaan dan akuntabilitas yang memadai, ruang spekulasi akan terus berkembang dan berpotensi menggerus legitimasi kebijakan.
Program imunisasi nasional, seperti BIAN dan BIAS, juga berada dalam konteks tersebut, terutama karena menyasar kelompok anak-anak sebagai populasi yang rentan. Oleh karena itu, pelaksanaannya menuntut pendekatan yang lebih transparan, partisipatif, serta berbasis komunikasi yang membangun kepercayaan masyarakat.
Di sisi lain, pengendalian TB tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor sosial yang melatarbelakanginya. Persoalan kemiskinan, kepadatan hunian, akses terhadap gizi, serta ketimpangan layanan kesehatan masih menjadi tantangan utama. Tanpa penanganan yang komprehensif terhadap faktor-faktor tersebut, vaksinasi berisiko menjadi solusi parsial yang tidak menyentuh akar persoalan.
Dalam kerangka tersebut, kritik terhadap vaksinasi TB tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai penolakan terhadap ilmu pengetahuan. Sebaliknya, kritik tersebut dapat dipahami sebagai dorongan agar kebijakan kesehatan disusun secara lebih matang, berbasis kemandirian nasional, serta menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian.
Ke depan, penguatan kedaulatan kesehatan menjadi agenda yang tidak dapat ditunda. Investasi dalam riset dalam negeri, pengembangan industri farmasi nasional, serta penguatan layanan kesehatan dasar perlu menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian TB tidak hanya diukur dari luasnya cakupan vaksinasi, tetapi juga dari kemampuan negara dalam memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak pada keselamatan rakyat, termasuk tenaga kesehatan sebagai garda terdepan. Jika hal tersebut tidak terpenuhi, maka yang dihadapi bukan hanya tantangan kesehatan, tetapi juga risiko krisis kepercayaan terhadap kebijakan publik.
_-_Copy.png)




.jpg)




_(1).png)
