PRSI dan Wapres Gibran Tinjau Proyek Robotik Santri di Pesantren Baitul Arqom Bandung
Peninjauan tersebut menampilkan berbagai inovasi karya santri, mulai dari robot pengalir air wudhu otomatis, robot berjalan dua kaki, hingga teknologi face recognition, sebagai bagian dari pembelajaran AI dan robotik di yang didampingi oleh bersama Persat

By Barra Muhammad 05 Mar 2026, 13:02:48 WIB Robotika
PRSI dan Wapres Gibran Tinjau Proyek Robotik Santri di Pesantren Baitul Arqom Bandung

Keterangan Gambar : Kunjungan ke dengan meninjau langsung pembelajaran robotik para santri, didampingi oleh Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI).


Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) turut mendampingi kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Kabupaten Bandung, tepatnya di Pondok Pesantren Baitul Arqom Al-Islami, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). Kunjungan Wapres tersebut didampingi langsung oleh Ketua Umum PRSI, Wahyu Hidayat, dalam rangka meninjau pembelajaran AI dan robotik yang telah berlangsung selama dua hari di lingkungan pesantren.


Dalam peninjauan tersebut, Wapres melihat secara langsung berbagai proyek robotik yang tengah dikembangkan para santri. Beberapa di antaranya adalah robot pengalir air wudhu otomatis, robot yang dapat berjalan dengan dua kaki, face recognition, hingga robot untuk kompetisi seperti robot sumo dan robot pemain bola.

Baca Lainnya :


“Ini tadi kita sudah meninjau beberapa murid yang sedang belajar membuat robot dan juga belajar AI. Tadi ada robot untuk mengalirkan air wudhu secara otomatis, ada robot yang bisa berjalan dengan dua kaki, robot sumo dan robot pemain bola yang bisa dikompetisikan,” ujar Wapres.


Selain itu, Wapres juga meninjau kegiatan santriwati yang tengah mempelajari pemanfaatan teknologi AI menggunakan perangkat digital.


“Tadi santriwati juga belajar AI. Saya tekankan pentingnya santri dan santriwati untuk mengikuti perkembangan zaman. Kalau santri akhlaknya baik, ngajinya baik, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa menguasai teknologi-teknologi terkini seperti AI dan robotik,” lanjutnya.


Wapres menjelaskan bahwa pembelajaran teknologi di pesantren tidak dimaksudkan agar semua santri menjadi programmer, melainkan untuk melatih pola pikir kritis dan inovatif.


“Coding itu melatih anak-anak muda untuk berpikir kritis, critical thinking, dan berpikir komputasional. Ini penting sekali karena ke depan persaingan akan semakin ketat. Saya tidak ingin santri-santriwati di pondok ini ketinggalan,” tegasnya.


Ia juga menilai berbagai proyek robotik yang ditampilkan masih berada pada tahap dasar, namun memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.


“Yang dipelajari tadi masih basic-basic (dasar), tapi ini bisa dikembangkan lagi. Robot-robot seperti ini setiap tahun ada kompetisinya, jadi inovasinya bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, PRSI juga memberikan alat peraga pembelajaran robotika kepada Pondok Pesantren Baitul Arqom sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pembelajaran teknologi di lingkungan pesantren.


Sementara itu, Ketua Umum PRSI, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa pembelajaran robotik di pesantren merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya kuat dalam nilai-nilai keagamaan, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi.


“Tentunya kami berterima kasih kepada mas wapres yang terus mendorong pembelajaran robotika ini agar bisa masuk ke sekolah-sekolah, khususnya ke banyak pesantren. Kami ingin para santri tidak hanya kuat dalam akhlak dan keilmuan agama, tetapi juga memiliki kemampuan memahami teknologi masa depan seperti robotik dan AI. Dengan begitu, santri bisa beradaptasi dengan perubahan zaman dan bahkan menjadi bagian dari inovasi teknologi bangsa,” ujar Wahyu Hidayat.


Melalui kegiatan ini, PRSI berharap pembelajaran robotik dan kecerdasan buatan dapat terus diperluas ke berbagai pesantren di Indonesia. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya generasi santri yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi nasional menuju Indonesia Emas 2045.