RSUD Tarakan Lakukan Terobosan Baru: Operasi Ligamen Lutut Canggih Kini Tak Lagi Milik Rumah Sakit Elit
Satu-Satunya RSUD Se-Indonesia Yang Bisa Melakukan Artificial Graft

By Agung Nugroho 30 Apr 2026, 08:17:37 WIB Kesehatan
RSUD Tarakan Lakukan Terobosan Baru: Operasi Ligamen Lutut Canggih Kini Tak Lagi Milik Rumah Sakit Elit

Keterangan Gambar : RSUD Tarakan Jakpus


Jakarta — Di tengah anggapan bahwa tindakan medis canggih hanya bisa diakses di rumah sakit swasta berbiaya tinggi, RSUD Tarakan justru mematahkan stigma itu. Rumah sakit milik pemerintah provinsi DKI Jakarta ini berhasil melakukan rekonstruksi Posterior Cruciate Ligament (PCL) menggunakan metode artificial graft—sebuah prosedur ortopedi kompleks yang selama ini jarang dilakukan di fasilitas publik. Dan menjadi satu-satunya RSUD se-Indonesia yang bisa melakukan artificial graft.

Direktur Utama RSUD Tarakan, dr. Weningtyas Purnomorini, MARS, menegaskan bahwa capaian ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat.

“Ini bukan sekadar keberhasilan tindakan medis, tetapi bentuk komitmen kami menghadirkan layanan ortopedi modern yang bisa dijangkau masyarakat luas,” ujarnya.

Baca Lainnya :

PCL adalah ligamen penting pada lutut yang berfungsi menjaga stabilitas sendi, terutama dalam mengontrol pergerakan tulang ke arah belakang. Cedera pada bagian ini kerap terjadi akibat olahraga berat maupun kecelakaan, dan sering kali diabaikan hingga berkembang menjadi kondisi kronis yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dokter spesialis ortopedi yang menjadi narasumber dalam tindakan ini, dr. Jafri Hasan, Sp.OT.Subsp.CO (K), menjelaskan bahwa pendekatan artificial graft memberikan sejumlah keunggulan dibandingkan metode konvensional.

“Dengan artificial graft, kita tidak perlu mengambil jaringan dari tubuh pasien. Ini mengurangi trauma tambahan dan membantu proses pemulihan menjadi lebih efisien,” jelasnya.

Menurutnya, banyak pasien datang dengan kondisi yang sudah terlambat ditangani. Akibatnya, tidak hanya menimbulkan nyeri berkepanjangan, tetapi juga berisiko menyebabkan kerusakan sendi jangka panjang.

“Kalau tidak ditangani dengan tepat, cedera PCL bisa berdampak pada stabilitas lutut secara keseluruhan. Ini yang kami coba atasi melalui rekonstruksi,” tambahnya.

Pasien yang menjalani tindakan ini sebelumnya mengalami nyeri lutut kronis disertai ketidakstabilan sendi. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, termasuk evaluasi klinis dan pencitraan, pasien dinyatakan memenuhi indikasi untuk dilakukan rekonstruksi.

Pascaoperasi, pasien menjalani program rehabilitasi terpadu yang melibatkan fisioterapi intensif dan pemantauan berkala. Tahap ini menjadi krusial untuk memastikan hasil operasi tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga optimal dalam pemulihan fungsi.

Terobosan RSUD Tarakan ini menjadi sinyal kuat bahwa rumah sakit pemerintah mampu bertransformasi menjadi pusat layanan kesehatan modern. Di tengah tantangan sistem kesehatan nasional, langkah ini bukan hanya soal teknologi—tetapi tentang keberanian mengubah batas.

Dan sekali batas itu ditembus, standar baru pun diam-diam lahir.