Terkini
- KAI Logistik Raih Penghargaan Sector Champion Logistik pada Danantara Indonesia CX100 Award 2026
- Dukung Ekonomi Digital di Daerah, BRI Region 11 Yogyakarta Lakukan Pendampingan Berkelanjutan bagi UMKM Berkah Swasembada Asal Banyumas
- WSBP Jalin Kerja Sama Optimalkan Aset Precast Plant WSBP Cibitung
- Perkuat Layanan Kesehatan di Hari Batik Nasional, BRI Serahkan Ambulans untuk SMA Yayasan Gemah Ripah Lohjinawi Klaten
- Prabowo Salurkan 160 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Kota Bogor
- Kapal Legendaris KRI Dewaruci Bersandar di Cirebon, Ada Wisata Edukasi Maritim Gratis
- Perkuat Ekosistem Layanan Rumah Sakit, BRI Insurance Hadirkan Medical Malpractice Insurance
- Cakra Elektrolisis, Teknologi Sterilisasi Air Tambak Karya Anak Bangsa, Mulai Dipercaya Tambak Besar di Pulau Jawa
- Psikologi dan Manajemen Risiko: Aryasatya Wishnutama Tekankan Manusia di Sektor Energi
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Gebyar Lelang BRI Serentak di 74 Lokasi di Seluruh Indonesia
Tradisi Lebaran Tak Luntur, Harga Pepaya Naik Tetap Diserbu Pembeli
.jpg)
Keterangan Gambar : Pedagang sayur mayur di ps.minggu.foto.alek
BERNUSA.COM, Jakarta, – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga sejumlah bahan dapur mulai merangkak naik. Salah satunya pepaya muda parut yang kini menembus Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional.
Di kawasan Pasar Minggu, para pedagang mengungkapkan kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi serta berkurangnya jumlah pedagang yang berjualan karena mudik.
“Per kilonya sudah Rp35.000 untuk yang diparut, kalau yang belum diparut Rp30.000. Biaya pengiriman mahal, apalagi pedagang sudah pada mudik. Alhamdulillah tetap laku banyak,” ujar Kasiem, salah satu pedagang di Pasar Minggu, Jum'at,(20/3/2026).
Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi di Pasar Minggu. Sejumlah pasar lain seperti Pasar Rebo, Pasar Bukit Duri, Pasar Menteng Pulo, hingga Pasar Rumput juga mencatat harga pepaya berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
Meski harga melonjak, permintaan masyarakat tetap tinggi. Isum, seorang ibu rumah tangga, mengaku rela berburu pepaya hingga ke Pasar Minggu karena stok di pasar dekat rumahnya di kawasan Tebet sudah habis.
“Ya terpaksa beli jauh-jauh ke Pasar Minggu, walaupun mahal. Soalnya kalau pakai labu siam cepat basi, jadi harus pepaya mentah. Nggak apa-apa, setahun sekali,” ujarnya.
Tak hanya pepaya, labu siam juga mengalami lonjakan permintaan. Bahkan, pedagang di Pasar Minggu menyiapkan hingga tujuh karung untuk memenuhi kebutuhan pembeli jelang Lebaran.
Meski banyak pembeli mencoba menawar, pedagang mengaku harga saat ini sudah berada di batas maksimal.
“Biasanya bisa ditawar, tapi sekarang memang sudah mentok di Rp35 ribu per kilo,” kata seorang pedagang.
Di balik kenaikan harga ini, tersimpan tradisi kuliner yang terus dijaga masyarakat. Sayur pepaya muda dan labu siam telah lama menjadi pelengkap wajib hidangan Lebaran.
Keduanya kerap disajikan bersama ketupat, opor ayam, semur daging, hingga sambal goreng ati. Rasa gurih dan khas dari sayur berbahan pepaya maupun labu siam menghadirkan cita rasa yang selalu dirindukan setiap tahun.
Tak heran, meskipun harga bahan dapur naik, masyarakat tetap rela merogoh kocek lebih dalam demi menjaga tradisi tersebut.
Lonjakan harga pun diperkirakan masih akan berlangsung hingga puncak perayaan Idul Fitri, seiring meningkatnya kebutuhan dapur di berbagai rumah tangga.(AS/BN).
_-_Copy.png)




.jpg)




_(1).png)
