- Wamen FaridaTegaskan Dekopinwil Ujung Tombak Gerakan Koperasi
- Lobang Buaya, Bawa Tragedi Sejarah Indonesia ke Panggung Film Horor Internasional
- Gandeng BliBli, Bank Jakarta Hadirkan Engagement Store di Jakarta Fair 2026
- UMKM Dapat Kepastian Pajak, Kementerian UMKM Siapkan Pendampingan dan Konsultasi Gratis
- Purbaya Sesat Logika, Kenaikan Pertamax Tidak Sesederhana Soal Angkutan Barang.
- PWI Jaya dan Bank Jakarta Gelar Lomba Jurnalistik MHT 2026, Siapkan Hadiah Rp75 Juta
- Menkop: Kemitraan Strategis Swasta dan Koperasi Dukung Pertumbuhan Ekonomi
- Datok Udin Pelor Hadiri Pengukuhan Hulubalang, Tegaskan Pentingnya Menjaga Marwah Melayu
- Anggaran Operasional Tersendat, Sejumlah Dapur Makan Bergizi Gratis di Cirebon Tutup Sementara
- Panen Raya PADI 2026 Di DEMAK Perkuat Kemitraan Petani Dan Dunia Usaha Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Di Balik Gugurnya Prajurit TNI, Kritik Muhammad Husein Menyasar Arah Diplomasi Indonesia

Keterangan Gambar : Ilustrasi gugurnya 3 putra terbaik bangsa
JAKARTA, -Duka atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon belum sempat mereda, namun gelombang kritik уже lebih dulu menguat ke pusat kekuasaan. Jurnalis internasional dan aktivis kemanusiaan, Muhammad Husein, melontarkan pertanyaan tajam yang menekan arah diplomasi Indonesia, terutama terhadap sikap Prabowo Subianto yang sebelumnya menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi Israel. Di tengah kehilangan tersebut, publik kini dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: ke mana sebenarnya kompas politik luar negeri Indonesia diarahkan?
Kritik itu disampaikan Husein melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Selasa (31/3/2026). Dalam pernyataannya, ia menyoroti ironi antara komitmen diplomatik Indonesia di panggung global dan realitas yang dihadapi prajurit di lapangan.
Dalam kurun waktu singkat, tiga prajurit TNI—Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan—gugur saat menjalankan mandat perdamaian bersama pasukan United Nations Interim Force in Lebanon di Lebanon.
Baca Lainnya :
- Pengamat Nilai Pertemuan Megawati–Prabowo dan Peresmian Taman Bendera Pusaka Jadi Sinyal Politik 20290
- BOP: Jalan Pintas Damai atau Cara Baru Mengatur Dunia?0
- Gugum : Iran Mampu Hadapi Perang Panjang, AS-Israel Hadapi Risiko Konflik Berlarut0
- IRGC Tantang Kapal Perang AS, Pengamat: Bentuk Perlawanan atas Tekanan Geopolitik0
- Kasus Penyiraman Air Keras: Jejak Aktor Intelektual Dipertanyakan, Transparansi Dipertaruhkan0
Bagi Husein, peristiwa tersebut bukan sekadar kehilangan, melainkan sinyal serius tentang rapuhnya penghormatan terhadap pasukan perdamaian internasional. Ia menilai tidak adanya respons yang memadai dari pihak Israel mempertegas ketimpangan tersebut.
“Ini bukan hanya tragedi, tapi juga penghinaan. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada klarifikasi, dan tidak ada pertanggungjawaban,” ujar Husein dalam pernyataannya.
Pernyataan itu sekaligus mengingatkan kembali pada pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2025. Saat itu, Presiden menyatakan bahwa perdamaian di Timur Tengah hanya dapat dicapai jika keamanan Israel turut dijamin.
Namun, menurut Husein, realitas di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Ia melihat adanya ketidakseimbangan antara narasi diplomatik dan fakta di medan konflik, terutama dalam konteks perlindungan terhadap pasukan perdamaian.
Lebih jauh, Husein menilai insiden di Lebanon tidak dapat dilepaskan dari pola kekerasan yang selama ini terjadi di Gaza. Dalam pandangannya, peristiwa tersebut menjadi cerminan dari dinamika konflik yang lebih luas di kawasan.
Atas dasar itu, ia mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan luar negeri. Ia mengusulkan sejumlah langkah, mulai dari peninjauan hubungan dengan negara-negara yang dianggap mendukung agresi Israel, hingga kebijakan ekonomi dan keimigrasian yang lebih tegas.
Meski demikian, usulan tersebut dipastikan akan memicu perdebatan luas, mengingat posisi Indonesia selama ini dikenal mengedepankan prinsip diplomasi bebas aktif serta peran sebagai jembatan dialog di berbagai konflik internasional.
Di tengah silang pendapat itu, satu hal menjadi jelas: gugurnya prajurit TNI di Lebanon tidak hanya meninggalkan luka, tetapi juga membuka ruang refleksi yang lebih dalam tentang arah, sikap, dan batas keberanian diplomasi Indonesia di panggung dunia.
_-_Copy.png)








_(1).png)

