- Menkop Ferry Dorong Kopdit Obor Mas NTT Jadi Kebanggaan Nasional
- Di Paris, Prabowo dan Macron Bahas Pertahanan hingga IEU-CEPA
- Pengamat UMKM Soroti Pendampingan Jakpreneur, Minta Evaluasi Kinerja Pendamping di Lapangan
- AHY Tegaskan Politik Perempuan Bukan Formalitas
- Audiensi PB PRSI dengan Kemenpora RI Bahas Dukungan Olimpiade Robotika 2026
- BNI Distribusikan 1.200 Hewan Kurban ke Berbagai Daerah Indonesia
- LPDB Koperasi Gelar Pemotongan Hewan Kurban, Wujud Nyata Kepedulian Sosial
- Isu Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret Tak Terkait Dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
- SMP Islam Mentari Indonesia Gelar Pameran Karya Robotik Siswa Bersama PRSI
- GMNI DKI Ajukan Dokumen Amicus Soal UU TNI
IRGC Tantang Kapal Perang AS, Pengamat: Bentuk Perlawanan atas Tekanan Geopolitik

Keterangan Gambar : Gugum Awit Ramdhani, Pengamat Politik Timur Tengah Dan Aktivis KOMRAD 98
Jakarta — Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali melontarkan pernyataan keras terkait kesiapan menghadapi kapal perang Amerika Serikat di kawasan Asia Barat. Dalam keterangan resminya, IRGC menegaskan bahwa pihaknya siap menyambut kehadiran armada militer AS dan memberikan “pukulan keras” jika terjadi konfrontasi di laut.
Melalui laporan media Iran Pars Today, pernyataan tersebut juga menyinggung mundurnya kapal induk USS Gerald R. Ford dari wilayah konflik. IRGC menilai langkah itu sebagai indikasi melemahnya dominasi militer Amerika di kawasan yang selama ini menjadi episentrum ketegangan global.
Selain itu, IRGC mengaitkan sikap militernya dengan pengalaman historis Iran dalam Perang Iran-Irak melawan rezim Saddam Hussein, serta menyebut nama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dalam konteks ancaman geopolitik yang lebih luas.
Baca Lainnya :
- Bayang-Bayang Perang Timur Tengah0
- Israel, Korea Utara, dan Bahasa Politik Global0
- Netanyahu dan Arah Politik Luar Negeri Amerika0
- Iran Kecam Serangan AS dan Israel, Pengamat Nilai Berisiko Picu Eskalasi Regional0
- PW. Formula Mengucapkan Selamat Kepada Peserta dari Provinsi DKI Jakarta, Muhammad Syiekar Chilashi Juara 1, Dai Tingkat Nasional 0
Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Timur Tengah sekaligus aktivis KOMRAD 98, Gugum Awit Ramdhani, menilai bahwa sikap IRGC merupakan respons yang wajar dalam lanskap konflik yang tidak seimbang.
“Kalau kita jujur membaca peta konflik global, apa yang disampaikan IRGC bukan sekadar retorika kosong. Itu adalah bentuk pernyataan kedaulatan. Negara mana pun yang terus berada di bawah tekanan militer dan politik tentu akan mengambil posisi tegas,” ujar Gugum, Jumat (20/3).
Menurutnya, kehadiran kekuatan militer seperti USS Gerald R. Ford di kawasan tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang proyeksi kekuatan negara besar di luar wilayahnya sendiri.
“Ketika IRGC menyatakan siap menghadapi, itu bukan agresi, melainkan pesan bahwa mereka tidak ingin wilayahnya terus dijadikan ajang demonstrasi kekuatan global,” katanya.
Gugum juga menekankan bahwa pengalaman Iran dalam Perang Iran-Irak telah membentuk karakter pertahanan yang keras dan tidak kompromistis terhadap tekanan eksternal.
“Mereka punya memori sejarah menghadapi tekanan besar dan bertahan. Itu yang membuat sikapnya hari ini terlihat konfrontatif, tapi sebenarnya berakar dari pengalaman bertahan hidup sebagai negara,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa narasi yang dibangun IRGC merupakan bentuk perlawanan terhadap ketimpangan dalam tatanan global.
“Selama ini ada standar ganda. Ketika negara besar menunjukkan kekuatan, itu dianggap menjaga stabilitas. Tapi ketika negara lain merespons, itu langsung dicap ancaman. IRGC sedang membalik cara pandang itu,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Gugum melihat bahwa dinamika yang terjadi bukan sekadar potensi konflik militer, melainkan bagian dari perebutan pengaruh yang lebih luas di kawasan Asia Barat.
“Yang terjadi hari ini adalah akumulasi dari tekanan geopolitik yang panjang. Selama kawasan ini terus dijadikan arena kontestasi, maka ketegangan seperti ini akan terus berulang,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa situasi saat ini masih berada dalam fase “perang bayangan”, di mana pernyataan keras menjadi instrumen utama tanpa konfrontasi langsung.
“Ini seperti dua kekuatan yang saling mengunci. Tapi selama akar konfliknya tidak diselesaikan, potensi eskalasi akan selalu ada,” tutupnya.
_-_Copy.png)



.jpg)




_(1).png)

