- Disegel Tetapi Pembangunan Terus Berjalan, Kevin Wu Desak Usut Lapangan Padel di Aset Pemprov DKI
- Politisi Muda Partai Ummat Ridho Rahmadi Menantu Amien Rais Dikabarkan Mundur Dari Jabatan Ketua Umum DPP Partai Ummat
- AI Mulai Masuk Industri Film, Jeremias Nyangoen: Kita Tak Bisa Menolak Perkembangan Teknologi
- Robot Humanoid Mornine Kantongi Sertifikasi CE Uni Eropa, Bidik Pasar Global
- Ketua Harian DPP Partai Ummat Heikal Safar Menggelar Diskusi Bulanan Perdana Dan Temu Media Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
- Angkat Jejak Sejarah Jalan Pos dan KAA, Bandung Siapkan Forum Kota Pusaka Indonesia 2027
- Meneladani Akhlak Nabi untuk Jakarta yang Beradab dan Indonesia yang Bersatu
- Analisa KOMRAD 98, 27 Agustus 2026: Menanti Gelombang Besar Perlawanan Masyarakat.
- Teh Java Preanger Dilirik Investor Belanda di KKI 2026
- Wali Kota Munjirin Tinjau Pedagang Ikan Pasar Kramat Jati, Dorong Penataan Kawasan
Diaspora Budaya: Aksara Jawa dan Pegon Jadi Simbol Persaudaraan Indonesia–Suriname

Keterangan Gambar : Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
Bernusa.com, JAKARTA– Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025. Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025. Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo sebagai langkah strategis menuju nominasi bersama (joint nomination) ke UNESCO dalam kategori Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda.
Format Lintas Waktu dan Ruang
Baca Lainnya :
FGD diselenggarakan dalam format hibrida, menghubungkan peserta di dua benua.
Para pegiat budaya di Indonesia bergabung secara daring pada pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting, sementara peserta di Suriname hadir langsung di KBRI Paramaribo, Van Brusellaan #3, Uitvlugt, yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priyono, pada pukul 10.00 waktu setempat.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pakar aksara, akademisi, dan komunitas budaya, yang menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak dalam upaya pelestarian aksara warisan leluhur.
Tujuan Utama: Naskah Bersama untuk UNESCO
Fokus utama FGD adalah penyusunan naskah nominasi bersama antara Indonesia dan Suriname.
Indonesia akan mengusung tradisi baca-tulis aksara nusantara yang masih hidup dan dipraktikkan di berbagai daerah, sementara Suriname menonjolkan Aksara Arab Pegon dan Hanacaraka (Jawa) — warisan yang dibawa oleh leluhur keturunan Jawa sejak abad ke-19.
“Kolaborasi antara komunitas di Indonesia dan Suriname merupakan langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang warisan aksara, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sejarah dan budaya antara dua negara,”
ujar Duta Besar Agus Priyono dalam sambutannya.
Pokok Bahasan FGD
Beberapa poin penting yang dibahas dalam FGD antara lain:
Definisi dan Signifikansi: Penguatan konsep “praktik menulis aksara tradisional” sebagai identitas budaya yang terus hidup di kedua negara.
Pembagian Peran: Penentuan kontribusi komunitas dan lembaga dalam riset, dokumentasi, dan pelestarian aksara.
Strategi Konservasi: Rencana keberlanjutan program pelatihan, pengajaran, dan regenerasi pengguna aksara pasca-nominasi UNESCO.
Partisipasi aktif para ahli dan pegiat budaya diharapkan melahirkan draf awal nominasi yang kuat dan representatif.
Langkah Selanjutnya: Tim Teknis Gabungan
Kesuksesan pelaksanaan FGD tahap pertama ini menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam memperkuat diplomasi kebudayaan.
Hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim teknis gabungan Indonesia–Suriname yang bertugas menyempurnakan naskah nominasi untuk diserahkan ke UNESCO.
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana diaspora budaya mampu menjadi kekuatan global dalam melestarikan warisan takbenda bangsa yang lintas generasi dan lintas geografi.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
