Meneladani Akhlak Nabi untuk Jakarta yang Beradab dan Indonesia yang Bersatu
Ceramah Maulid Nabi ﷺ Dalam Rangka Haul Al-Hajj Fatahillah ke-468 dan Peringatan Hari Jadi Jayakarta ke-496

By Ahmad Romdoni 25 Agu 2026, 21:20:00 WIB Hikmah
Meneladani Akhlak Nabi untuk Jakarta yang Beradab dan Indonesia yang Bersatu

Keterangan Gambar : Dr. KH. Solahuddin AR., MA.


Disampaikan oleh: Dr. KH. Solahuddin AR., MA.

Di Setu Babakan Betawi.

MEGAPOLITANPOS.COM: Jakarta-Ceramah Dr. KH. Shollahuddin,AR.,M.A di Kampung Setu Babakan, Jagakarsa, Jaksel

Baca Lainnya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد، المبعوث رحمة للعالمين، سيد الأولين والآخرين، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد.

Yang kami hormati dan kami muliakan:

Para Raja Raja, Para Sultan senusantara.

Para alim ulama, para habaib, para kyai dan para ustaz;

Para pimpinan dan pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta;

Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, para Sultan dan Raja Nusantara;

Para pimpinan lembaga dan organisasi kemasyarakatan;

Keluarga besar penyelenggara Haul Al-Hajj Fatahillah; Ketua Umum (RB. Abi Munawir Al Madani Martakusuma)

Serta seluruh hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah SWT.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan dan kesempatan, sehingga pada sore yang penuh keberkahan ini kita dapat bersama-sama menghadiri Haul Al-Hajj Fatahillah ke-468 sekaligus memperingati Hari Jadi Jayakarta ke-496.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, izinkan saya menyampaikan sebuah tema:

“Rasulullah ﷺ Sang Pemersatu: Meneladani Akhlak Nabi untuk Jakarta yang Beradab dan Indonesia yang Bersatu.”

Tema ini sangat penting.

Karena kita tidak sedang sekadar memperingati Maulid Nabi ﷺ.

Kita juga sedang mengenang perjalanan sejarah Jayakarta dan mengenang perjuangan para pendahulu kita.

Maka pertanyaannya:

Apa hubungan antara Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Haul Al-Hajj Fatahillah, dan sejarah Jayakarta?

Jawabannya adalah:

Semangat membangun masyarakat, menjaga persatuan, menegakkan nilai-nilai kebaikan dan mewariskan peradaban kepada generasi berikutnya.


I. MAULID NABI BUKAN SEKADAR MENGENANG KELAHIRAN

Hadirin rahimakumullah.

Ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, jangan sampai Maulid hanya berhenti pada kegembiraan memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ.

Maulid harus membawa perubahan.

Allah SWT berfirman:

«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا»

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan pada hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

(QS. Al-Ahzab: 21)

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak mengatakan:

لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ قِصَّةٌ حَسَنَةٌ

“Pada diri Rasulullah terdapat cerita yang baik.”

Tetapi Allah mengatakan:

أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Teladan yang baik.

Artinya, Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk diceritakan.

Rasulullah ﷺ untuk diteladani.

Bukan hanya untuk dipuji.

Tetapi untuk diikuti.

Bukan hanya untuk dikenang.

Tetapi untuk dihidupkan sunnah dan akhlaknya dalam kehidupan kita.

Maka ukuran keberhasilan Maulid bukan hanya seberapa meriah acaranya.

Tetapi:

Apakah setelah Maulid kita menjadi lebih jujur?

Apakah kita menjadi lebih santun?

Apakah kita semakin mencintai sesama?

Apakah kita semakin menjaga persatuan?

Apakah kita semakin dekat kepada Allah dan Rasul-Nya?

Itulah ruh Maulid.

II. RASULULLAH ﷺ ADALAH PEMERSATU

Hadirin yang berbahagia.

Salah satu keteladanan terbesar Rasulullah ﷺ adalah bagaimana beliau mempersatukan masyarakat yang sebelumnya terpecah.

Kita tahu bagaimana keadaan masyarakat Arab sebelum Islam.

Ada fanatisme kesukuan.

Ada peperangan antarkabilah.

Ada permusuhan yang berlangsung turun-temurun.

Suku yang satu membanggakan dirinya.

Suku yang lain merasa lebih tinggi.

Tetapi Rasulullah ﷺ datang membawa pesan:

«إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ»

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Persaudaraan itu bukan sekadar slogan.

Ia diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Muhajirin datang ke Madinah meninggalkan harta dan kampung halaman.

Kaum Anshar menyambut mereka dengan kasih sayang.

Inilah masyarakat yang dibangun Rasulullah ﷺ.

Masyarakat yang berbeda latar belakang, tetapi memiliki tujuan bersama.

III. PIAGAM MADINAH DAN KEHIDUPAN BERSAMA

Hadirin rahimakumullah.

Ketika Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah, beliau tidak membangun masyarakat yang hanya berbicara tentang kelompoknya sendiri.

Beliau membangun tatanan kehidupan bersama.

Masyarakat Madinah terdiri atas berbagai kelompok dan latar belakang.

Di sana terdapat kaum Muhajirin, Anshar, berbagai kelompok Yahudi, dan kelompok masyarakat lainnya.

Rasulullah ﷺ membangun kesepakatan bersama untuk menjaga keamanan, keadilan dan kehidupan masyarakat.

Inilah salah satu pelajaran besar dari sejarah Rasulullah ﷺ:

Perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan.

Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila dibangun di atas keadilan, penghormatan dan kesepakatan untuk hidup bersama.

Karena itu, mencintai Islam tidak berarti membenci orang lain.

Mencintai identitas kita tidak berarti merendahkan identitas orang lain.

Mencintai kelompok kita tidak boleh menyebabkan kita menghina kelompok yang berbeda.

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

iman melahirkan rahmah, bukan kebencian.

IV. RASULULLAH ﷺ DIUTUS SEBAGAI RAHMAT

Allah SWT berfirman:

«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ»

“Tidaklah Kami mengutus engkau, Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107)

Perhatikan.

Allah tidak mengatakan:

رَحْمَةً لِلْمُسْلِمِينَ فَقَطْ

“Sebagai rahmat hanya bagi orang-orang Islam.”

Tetapi:

«رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ»

Rahmat bagi seluruh alam.

Maka orang yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ harus berusaha menghadirkan rahmat.

Di rumah menjadi rahmat.

Di sekolah menjadi rahmat.

Di pesantren menjadi rahmat.

Di kantor menjadi rahmat.

Di masyarakat menjadi rahmat.

Di Jakarta menjadi rahmat.

Bahkan kepada orang yang berbeda dengan kita pun, akhlak Rasulullah ﷺ tetap menjadi teladan.


V. MUKJIZAT TERBESAR RASULULLAH ﷺ: MEMBANGUN MANUSIA

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Kita sering berbicara tentang mukjizat Rasulullah ﷺ.

Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar.

Isra Mi'raj adalah peristiwa yang luar biasa.

Banyak mukjizat yang Allah berikan kepada beliau.

Tetapi ada satu hal yang juga luar biasa:

Rasulullah ﷺ berhasil mengubah manusia.

Orang yang dahulu kasar menjadi lembut.

Orang yang dahulu bermusuhan menjadi bersaudara.

Orang yang dahulu hidup dalam kejahilan menjadi generasi yang membangun peradaban.

Dari masjid yang sederhana di Madinah lahir generasi yang kemudian mengubah sejarah dunia.

Karena itu, kalau kita ingin membangun Jakarta dan Indonesia, jangan hanya membangun gedung.

Bangun manusianya.

Bangun akhlaknya.

Bangun pendidikannya.

Bangun integritasnya.

Bangun spiritualitasnya.

Bangun rasa tanggung jawabnya.

Karena:

gedung yang megah tanpa manusia yang berakhlak tidak akan melahirkan peradaban yang mulia.

VI. AKHLAK ADALAH JANTUNG PERADABAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ»

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Maka jangan kita ukur kemajuan hanya dari teknologi.

Jangan kita ukur kemajuan hanya dari gedung.

Jangan kita ukur kemajuan hanya dari jalan yang bagus.

Kemajuan sejati adalah ketika:

yang kuat melindungi yang lemah,

yang kaya membantu yang miskin,

yang berilmu membimbing yang tidak tahu,

yang memiliki jabatan menjalankan amanah,

yang muda menghormati yang tua,

yang tua menyayangi yang muda,

dan seluruh masyarakat saling menjaga.

Itulah masyarakat yang beradab.

VII. HAUL BUKAN SEKADAR MENGENANG ORANG YANG TELAH WAFAT

Hadirin Para Raja, dan Sultan yang di muliakan Allah.

Hari ini kita juga memperingati Haul Al-Hajj Fatahillah.

Haul bukan hanya mengingat bahwa seseorang pernah hidup.

Haul adalah momentum untuk bertanya:

Apa yang diwariskan oleh beliau kepada kita?

Sejarah tidak boleh berhenti menjadi cerita.

Sejarah harus menjadi pelajaran.

Para pendahulu kita telah berjuang.

Mereka menghadapi tantangan pada zamannya.

Mereka memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam membangun masyarakat dan menjaga tanah yang mereka perjuangkan.

Maka generasi kita mempunyai tugas:

melanjutkan nilai-nilai perjuangan itu sesuai dengan kebutuhan zaman kita.

Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan cara yang sesuai dengan zamannya, maka hari ini kita berjuang melalui:

pendidikan,

dakwah,

akhlak,

ilmu pengetahuan,

pelayanan kepada masyarakat,

menjaga persatuan,

dan membangun generasi muda.

VIII. DARI JAYAKARTA MENUJU JAKARTA

Hadirin yang saya muliakan.

Hari ini kita memperingati perjalanan panjang Jayakarta.

Nama boleh berubah.

Zaman boleh berubah.

Teknologi boleh berubah.

Bangunan boleh berubah.

Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh hilang:

nilai.

Kita ingin Jakarta maju.

Tetapi Jakarta juga harus beradab.

Kita ingin Jakarta modern.

Tetapi Jakarta tidak boleh kehilangan akar budayanya.

Kita ingin Jakarta menjadi kota global.

Tetapi Jakarta harus tetap memiliki hati.

Kita ingin Jakarta memiliki gedung pencakar langit.

Tetapi kita juga ingin masyarakatnya memiliki akhlak yang tinggi.

Karena itu saya ingin menyampaikan sebuah ungkapan:

«“Jangan hanya kita wariskan Jakarta yang maju kepada anak cucu kita; wariskan pula Jakarta yang berakhlak.”»

Jangan hanya wariskan gedung.

Wariskan nilai.

Jangan hanya wariskan jalan.

Wariskan persaudaraan.

Jangan hanya wariskan teknologi.

Wariskan ilmu dan akhlak.

Jangan hanya wariskan sejarah.

Wariskan semangat perjuangan.

IX. JAKARTA ADALAH RUMAH BERSAMA

Hadirin Para tetamu undangan.

Jakarta adalah tempat bertemunya berbagai manusia.

Ada masyarakat Betawi.

Ada orang Jawa.

Ada Sunda.

Ada Sumatera.

Ada Kalimantan.

Ada Sulawesi.

Ada Papua.

Ada berbagai suku, budaya dan tradisi.

Semua bertemu di Jakarta.

Karena itu Jakarta mengajarkan kepada kita satu pelajaran:

kita boleh berbeda asal kita tidak bermusuhan.

Kita boleh berbeda pilihan.

Kita boleh berbeda organisasi.

Kita boleh berbeda latar belakang.

Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ»

“Janganlah kalian saling berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.”

(QS. Al-Anfal: 46)

Maka persatuan bukan sekadar slogan.

Persatuan adalah kekuatan.

X. TIGA WARISAN RASULULLAH ﷺ UNTUK GENERASI KITA

Hadirin yang berbahagia.

Kalau boleh saya simpulkan, ada tiga warisan besar Rasulullah ﷺ yang sangat relevan bagi Jakarta dan Indonesia.

Pertama: Iman

Membangun manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT.

Karena manusia yang merasa diawasi Allah akan lebih berhati-hati dalam menjalankan amanah.

Kedua: Akhlak

Ilmu tanpa akhlak dapat menjadi berbahaya.

Kekuasaan tanpa akhlak dapat menjadi kesewenang-wenangan.

Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan.

Maka akhlak harus menjadi fondasi.

Ketiga: Persatuan

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa umat yang kuat adalah umat yang saling menguatkan.

Bukan saling menjatuhkan.

Bukan saling mencaci.

Bukan saling mencari kesalahan.

Tetapi saling menolong dalam kebaikan.

XI. PESAN UNTUK GENERASI MUDA

Hadirin yang saya hormati.

Kita juga harus memikirkan generasi muda.

Karena merekalah yang akan menerima Jakarta dan Indonesia di masa depan.

Kepada anak-anak muda kita katakan:

Jadilah generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, tinggi cita-citanya dan mulia akhlaknya.

Jangan hanya menjadi generasi yang pandai menggunakan teknologi.

Jadilah generasi yang mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan.

Jangan hanya menjadi generasi yang terkenal.

Jadilah generasi yang bermanfaat.

Jangan hanya mengejar kesuksesan.

Kejar juga keberkahan.

Karena Rasulullah ﷺ bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Maka ukuran kemuliaan bukan hanya:

“Berapa banyak yang kita miliki?”

Tetapi:

“Berapa banyak manusia yang memperoleh manfaat dari keberadaan kita?”

XII. ULAMA, UMARA DAN MASYARAKAT

Hadirin yang berbahagia.

Dalam membangun masyarakat, kita membutuhkan sinergi.

Ulama membutuhkan pemerintah.

Pemerintah membutuhkan ulama.

Masyarakat membutuhkan keduanya.

Dan semuanya membutuhkan masyarakat yang sadar akan tanggung jawabnya.

Ulama memberikan bimbingan moral dan keagamaan.

Pemerintah menjalankan amanah pelayanan dan pembangunan.

Masyarakat menjaga ketertiban, persaudaraan dan kepedulian sosial.

Jika semuanya bersatu dalam kebaikan, insya Allah lahirlah masyarakat yang kuat.

Inilah semangat yang harus kita hidupkan kembali:

ulama yang membimbing, umara yang amanah, dan masyarakat yang berakhlak.

XIII. MAULID HARUS MENGHASILKAN PERUBAHAN

Hadirin rahimakumullah.

Mari kita jadikan Maulid tahun ini sebagai titik perubahan.

Setelah pulang dari tempat ini, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Apakah saya sudah menjadi orang yang lebih jujur?

Apakah saya sudah menjadi orang yang lebih sabar?

Apakah saya sudah menjadi orang yang lebih menghormati orang lain?

Apakah saya sudah menjadi orang yang lebih bermanfaat?

Apakah saya sudah menjadi orang yang menjaga persatuan?

Kalau jawabannya belum, maka Maulid harus menjadi momentum untuk berubah.

Karena cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya diucapkan dengan lisan.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti akhlaknya.

XIV. DARI MADINAH, JAYAKARTA, HINGGA INDONESIA

Hadirin yang saya muliakan.

Mari kita renungkan tiga tempat dan tiga pelajaran.

Madinah mengajarkan kita persaudaraan.

Jayakarta mengingatkan kita kepada sejarah perjuangan dan perjalanan masyarakat.

Indonesia adalah rumah besar yang harus kita rawat bersama.

Maka mari kita satukan:

iman dengan kebangsaan,

ilmu dengan akhlak,

sejarah dengan masa depan,

tradisi dengan kemajuan,

dan perbedaan dengan persaudaraan.

Inilah spirit Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang sesungguhnya.

XV. PENUTUP

Hadirin yang dirahmati Allah.

Pada akhirnya, marilah kita kembali kepada Rasulullah ﷺ.

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا»

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”

(QS. Al-Ahzab: 56)

Maka mari kita hidupkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Mari kita hidupkan sunnahnya.

Mari kita hidupkan akhlaknya.

Mari kita hidupkan persaudaraannya.

Mari kita hidupkan semangat perjuangannya.

Dan mari kita jadikan Jakarta sebagai kota yang maju, tetapi juga berakhlak.

Mari kita jadikan Indonesia sebagai negara yang kuat, tetapi tetap menjunjung persaudaraan.

Mari kita wariskan kepada anak cucu kita bukan hanya tanah air yang makmur, tetapi juga masyarakat yang beriman, berilmu dan berakhlak.

Saya ingin menutup dengan satu pesan:

«“Kalau Rasulullah ﷺ mengajarkan kita menjadi umat yang rahmah, kalau para pendahulu kita mengajarkan kita tentang perjuangan, maka tugas kita hari ini adalah menjaga Jakarta dengan iman, membangun Jakarta dengan akhlak, dan merawat Indonesia dengan persatuan.”»

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada kita semua.

Semoga Allah SWT merahmati para ulama dan para pendahulu kita.

Semoga Allah SWT menerima amal para tokoh yang telah berjasa bagi masyarakat dan bangsa.

Semoga Jakarta menjadi kota yang aman, maju, berbudaya dan berakhlak.

Semoga Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Dan semoga kita semua mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ di yaumil qiyamah.

اللهم ارزقنا حب نبيك محمد ﷺ، واتباع سنته، والتخلق بأخلاقه، واحشرنا في زمرته، واسقنا من حوضه، ولا تحرمنا شفاعته.

اللهم أصلح علماءنا وأمراءنا ومجتمعنا، ووفقهم لما تحب وترضى.

اللهم احفظ بلادنا إندونيسيا، واحفظ جاكرتا وأهلها، واجعلها بلدة طيبة آمنة  مطمئنة.

اللهم اجمع قلوبنا على الخير، وأصلح ذات بيننا، وألف بين قلوبنا، واهدنا سبل السلام.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

والحمد لله رب العالمين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Jakarta, Selasa 25 Agustus 2026. ((Setu Babakan Betawi))