- Wagub Sumut Dengarkan Mimpi Anak-anak Nias, Dorong Revitalisasi UPTD Pelayanan Sosial Anak Gunungsitoli
- Rekan Indonesia Bogor Raya, Dampingi Ibu Hamil. Penanganan Lambat Bayinya Meninggal
- Pengelolaan Sampah Jangan Hanya Jadi Wacana Dalam Anggaran 2027
- PIiala Dunia Telah Usai, Kini Saatnya Mengejar Piala Akhirat
- Sinergi Mahasiswa dan Pemerintah Daerah Revitalisasi Program P2L KWT melalui Penyaluran 1.300 Bibit di Bone, Sulawesi Selatan
- GMNI DKI Jakarta Soroti Dugaan Perampasan Tanah dan Pendekatan Militer dalam Program KDMP
- Indonesia Tegaskan HAM Tak Boleh Diterapkan dengan Standar Ganda
- Transformasi Digital Bank Jakarta Berlanjut, eForm Permudah Layanan Nasabah
- Final Piala Dunia Jadi Momentum Kementerian UMKM Perkuat Dukungan bagi Ojol Indonesia
- GenCoopRun 5K Semarakkan Harkopnas ke-79, Kemenkop Ajak Gen Z Kenal Koperasi Modern
PIiala Dunia Telah Usai, Kini Saatnya Mengejar Piala Akhirat

Keterangan Gambar : Dr. KH. Solahuddin Abdul Rachman, M.A., Ketua Departemen Fatwa PB Forum Ulama dan Aktivis Islam (FORMULA).
Assalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah. Piala Dunia telah usai. Pertandingan telah berakhir, dan Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0.
Selama berlangsungnya turnamen itu, kita rela mengorbankan banyak hal. Waktu tidur kita kurangi, kita begadang hingga larut malam, tenaga dan pikiran kita kerahkan hanya untuk menyaksikan pertandingan demi pertandingan. Kita menyiapkan kopi, teh, jus, makanan ringan, bahkan mengeluarkan biaya untuk berkumpul dan nonton bareng (nobar) bersama keluarga dan sahabat. Semua itu dilakukan demi menikmati sebuah pertandingan yang pada akhirnya hanya menyisakan kenangan.
Kini, izinkan saya mengajak diri saya pribadi dan seluruh sahabat sekalian untuk merenung. Jika untuk mengejar "Piala Dunia" kita begitu bersemangat, lalu bagaimana dengan "Piala Akhirat" yang hadiahnya adalah surga dan keridaan Allah?
Baca Lainnya :
Mari kita kerahkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan kepada kita. Gunakan waktu, tenaga, harta, ilmu, dan kesempatan yang masih tersisa untuk meraih kemenangan yang hakiki.
Mari kita hidupkan majelis-majelis ilmu. Ajak istri, suami, anak-anak, keluarga, tetangga, dan masyarakat menghadirinya. Siapkan tempat yang nyaman, bersih, dan jika mampu, berikan fasilitas terbaik agar mereka betah menghadiri majelis zikir dan ilmu. Jangan ragu menginfakkan harta untuk jalan Allah, karena setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan kebaikan akan diganti dengan balasan yang jauh lebih mulia.
Kita sanggup begadang berjam-jam untuk menyaksikan pertandingan para pemain bola, yang semuanya adalah hamba dan ciptaan Allah. Lalu, sanggupkah kita meluangkan waktu untuk bermunajat kepada Allah? Sanggupkah kita bangun di sepertiga malam untuk shalat tahajud? Sanggupkah kita duduk menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperbanyak doa? Inilah pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada hati kita masing-masing.
Apabila hati kita merasakan kebahagiaan menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur'an, beribadah, dan berzikir, bahkan melebihi kegembiraan ketika menyaksikan pertandingan dunia, maka bersyukurlah kepada Allah. Itu adalah tanda bahwa Allah telah menganugerahkan kehidupan kepada hati kita. Jagalah nikmat itu dengan istiqamah.
Namun, apabila hati kita masih terasa berat untuk beribadah, malas menghadiri majelis ilmu, lebih bersemangat mengejar hiburan daripada mendekat kepada Allah, maka janganlah berputus asa. Segeralah menangis di hadapan Allah. Bertaubatlah dengan taubat yang tulus.Perbanyaklah istighfar. Mohonlah kepada Allah agar hati kita dihidupkan kembali dengan cahaya iman.
Karena sesungguhnya, hati yang hidup akan selalu merindukan Allah, sedangkan hati yang sakit akan lebih mencintai dunia daripada akhirat. Ingatlah Piala Dunia hanya dinikmati beberapa hari, Piala Akhirat dinikmati selama-lamanya.
Juara dunia hanya dikenang oleh sejarah. Juara akhirat akan dimuliakan oleh Allah di hadapan para malaikat dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak hanya sibuk mengejar kemenangan dunia, tetapi lebih bersungguh-sungguh dalam meraih kemenangan akhirat. Ingatlah....
Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, niscaya Allah akan menanamkan kecukupan dalam hatinya, memudahkan segala urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Sebaliknya, barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan dunia yang ia peroleh hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya.
Renungkanlah wahai Sahabat sahabatku..Dunia mempunyai peluit akhir pertandingan. Kehidupan juga mempunyai peluit terakhir. Bedanya, setelah peluit kehidupan dibunyikan, tidak ada lagi babak tambahan dan tidak ada kesempatan mengulang pertandingan. Maka persiapkanlah diri sebelum peluit itu ditiup oleh Malaikat Maut."
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang hidup, langkah yang istiqamah, amal yang ikhlas, dan mengakhiri kehidupan kita dengan ḥusnul khātimah. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
فَافْهَمْ... وَتَدَبَّرْ... وَاعْمَلْ
Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026
Dr. KH. Solahuddin Abdul Rachman, M.A.
Doktor Ilmu Dakwah
Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) Jakarta.
Ketua Departemen Fatwa PB Forum Ulama dan Aktivis Islam (FORMULA).
_-_Copy.png)




.jpg)



_(1).png)

