Ilmu Zhahir, Ilmu Batin, dan Jalan Tarekat: Menyatukan Syariat, Dzikir, dan Akhlak
Oleh: Dr. KH. Solahuddin.AR., MA.

By Ahmad Romdoni 22 Sep 2026, 10:16:13 WIB Hikmah
Ilmu Zhahir, Ilmu Batin, dan Jalan Tarekat:  Menyatukan Syariat, Dzikir, dan Akhlak

Keterangan Gambar : Dr.KH. Solahuddin Abdul Racman.MA, Pimpinanan Ponpes Terpadu Al khobir.


Ilmu Bukan Sekadar untuk Diketahui, tetapi untuk Diamalkan

Salah satu persoalan penting dalam kehidupan keagamaan kita adalah adanya jarak antara ilmu dan amal. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang agama, memahami hukum-hukum fikih, menghafal berbagai nasihat tentang akhlak, bahkan mampu menjelaskan ayat dan hadis, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana ilmu itu mengubah diri kita?

Ilmu yang benar semestinya melahirkan amal. Amal yang benar semestinya melahirkan akhlak. Dan akhlak yang baik semestinya semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT.

Baca Lainnya :

Karena itu, ilmu agama tidak cukup hanya berhenti pada pengetahuan tentang apa yang halal dan haram, wajib dan sunnah, sah dan batal. Seorang Muslim juga membutuhkan ilmu tentang hati: bagaimana ikhlas, bagaimana mengendalikan hawa nafsu, bagaimana menghindari riya, ujub, takabbur, hasad, marah yang tercela, cinta dunia yang berlebihan, serta berbagai penyakit batin lainnya.

Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara ilmu zhahir dan ilmu batin.

Syariat dan Tasawuf: Zhahir dan Batin

Secara sederhana, syariat dapat kita simbolkan sebagai ilmu zhahir, sedangkan tasawuf atau tazkiyatun nafs dapat kita pahami sebagai ilmu batin.

Ilmu zhahir mengatur perbuatan yang tampak: bagaimana kita shalat, berpuasa, berzakat, bermuamalah, menikah, berdagang, serta membedakan yang halal dan haram.

Sedangkan ilmu batin mengatur bagaimana keadaan hati ketika semua amal itu dilakukan: apakah ikhlas atau riya, tawadhu atau sombong, sabar atau mudah marah, tawakal atau selalu bergantung kepada makhluk.

Dengan demikian, syariat menjawab pertanyaan:

“Apa yang harus saya lakukan?”

Sedangkan ilmu batin membantu menjawab:

“Bagaimana saya melakukannya dengan hati yang benar dan untuk siapa saya melakukannya?”

Shalat, misalnya, harus benar menurut syariat: waktunya benar, bersuci dengan benar, memenuhi syarat dan rukunnya. Tetapi shalat juga memiliki dimensi batin: khusyuk, ikhlas, muraqabah, dan kesadaran bahwa seorang hamba sedang menghadap Allah SWT.

Karena itu, syariat memperbaiki bentuk amal, sedangkan tasawuf memperbaiki ruh amal.

Keduanya tidak boleh dipertentangkan.

Para ulama menjelaskan:

«وأما علم الباطن فلا قوام له بدون علم الظاهر، وأما علم الظاهر فلا تمام له بدون علم الباطن.»

“Adapun ilmu batin tidak dapat tegak tanpa ilmu zhahir; dan ilmu zhahir tidak sempurna tanpa ilmu batin.”

Inilah keseimbangan yang diperlukan dalam kehidupan seorang Muslim.

Ilmu Zhahir Tanpa Batin

Apa yang terjadi apabila seseorang memiliki ilmu agama tetapi tidak melakukan penyucian jiwa?

Ia mungkin mengetahui bahwa dusta itu haram, tetapi lisannya masih mudah berdusta.

Ia mengetahui ghibah itu tercela, tetapi masih senang membicarakan kekurangan orang lain.

Ia mengetahui fitnah itu dosa, tetapi masih mudah menyebarkan berita yang belum jelas.

Ia mengetahui kata-kata kotor itu tidak pantas bagi seorang mukmin, tetapi lisannya belum terdidik.

Ia mengetahui kesombongan adalah penyakit hati, tetapi ilmunya justru membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Di sinilah ilmu membutuhkan tazkiyah.

Ilmu bukan hanya untuk memperbanyak informasi, tetapi untuk membentuk manusia.

Seorang alim bukan sekadar orang yang mampu menjawab pertanyaan agama. Ia juga harus menjadi orang yang semakin halus lisannya, semakin bersih hatinya, semakin baik akhlaknya, dan semakin kuat rasa takut serta cintanya kepada Allah SWT.

Tasawuf Tanpa Syariat Juga Tidak Cukup

Sebaliknya, ilmu batin juga tidak boleh dilepaskan dari syariat.

Pengalaman spiritual, perasaan hati, ilham, mimpi, atau pengalaman batin tidak boleh dijadikan ukuran tunggal dalam menentukan benar dan salah. Semuanya harus ditimbang dengan Al-Qur'an, Sunnah, akidah, dan syariat.

Karena itu, tasawuf yang sehat bukanlah meninggalkan syariat. Justru tasawuf yang benar semakin membuat seseorang taat kepada syariat, berakhlak kepada manusia, dan dekat kepada Allah.

Maka dapat dikatakan:

Syariat tanpa tazkiyah berpotensi menjadi bentuk tanpa ruh; sedangkan tasawuf tanpa syariat berpotensi kehilangan ukuran.

Yang ideal adalah keduanya berjalan bersama.

Dari Ilmu Menuju Dzikir

Lalu bagaimana ilmu batin itu dilatih dalam kehidupan sehari-hari?

Salah satu jalannya adalah dzikir.

Allah SWT berfirman:

«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. ar-Ra‘d: 28)

Dzikir bukan hanya aktivitas lisan. Dzikir yang terus dilatih dapat bergerak dari lisan menuju hati, dari hati menuju kesadaran ruhani.

Pertama, dzikir lisan: membiasakan lidah menyebut Allah dengan kalimat-kalimat yang diajarkan syariat, seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, shalawat, dan doa.

Kedua, dzikir hati: hati tidak sekadar mengucapkan lafaz, tetapi menyadari maknanya. Ketika mengucapkan La ilaha illallah, hati belajar menyadari bahwa tidak ada yang menjadi tujuan penghambaan selain Allah.

Ketiga, dzikir ruhani: seluruh orientasi hidup semakin diarahkan kepada Allah. Bukan berarti seseorang berhenti bekerja, bermasyarakat, berdagang, mengajar, atau menjalankan tanggung jawab duniawi. Justru semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa dirinya berada dalam pengawasan Allah.

Inilah yang disebut muraqabah: merasa senantiasa berada dalam perhatian dan pengawasan Allah SWT.

Mengapa Dzikir Dapat Menjaga Lisan?

Di sinilah hubungan antara dzikir dan akhlak menjadi sangat menarik.

Lisan manusia pada dasarnya membutuhkan kesibukan. Jika tidak digunakan untuk kebaikan, ia mudah digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Ketika seseorang membiasakan lisannya berdzikir, maka ia sedang melatih dirinya untuk mengisi waktu dengan kalimat yang baik.

Lisan yang terbiasa dengan dzikir akan lebih mudah diingatkan ketika hendak mengucapkan sesuatu yang buruk.

Sebelum berdusta, hati mengingat Allah.

Sebelum memfitnah, hati mengingat Allah.

Sebelum mencaci, hati mengingat Allah.

Sebelum mengucapkan kata-kata kotor, hati mengingat Allah.

Sebelum berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, hati bertanya:

“Apakah ucapan ini diridai Allah?”

Inilah salah satu buah penting dari dzikir: bukan hanya banyaknya lafaz yang keluar dari mulut, tetapi perubahan perilaku setelah dzikir itu dilakukan.

Dzikir yang benar semestinya mempunyai pengaruh terhadap akhlak.

Dari Dzikir Menuju Disiplin Diri

Di sinilah saya melihat pentingnya tarekat sebagai metode pendidikan ruhani.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa seseorang yang tidak mengikuti nama atau organisasi tarekat tertentu otomatis kurang agamanya. Tarekat dalam pengertian yang sehat adalah jalan pendidikan dan latihan spiritual untuk mendisiplinkan diri dalam tazkiyatun nafs, dzikir, muraqabah, mujahadah, dan pembinaan akhlak, dengan tetap berada dalam koridor syariat.

Bagi seseorang yang telah memiliki ilmu syariat, mengambil jalan pembinaan ruhani secara teratur dapat menjadi sarana yang sangat baik agar ilmu tidak berhenti sebagai teori.

Sebab manusia sering mengetahui apa yang benar, tetapi belum tentu mampu membiasakan dirinya melakukan yang benar.

Kita tahu bahwa marah harus dikendalikan, tetapi tetap mudah marah.

Kita tahu ghibah itu dosa, tetapi masih senang mendengarnya.

Kita tahu waktu adalah amanah, tetapi masih banyak waktu terbuang.

Kita tahu Allah selalu mengawasi, tetapi hati sering lalai.

Karena itu diperlukan latihan yang terus-menerus dan disiplin.

Dalam konteks inilah tarekat dapat dipahami sebagai salah satu sarana untuk mengubah ilmu menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi akhlak, dan akhlak menjadi karakter.

Tarekat: Mengisi Waktu dengan Dzikir dan Mengingat Allah

Orang yang memiliki disiplin dzikir akan memiliki pembagian waktu yang lebih terarah.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk keluarga.

Ada waktu untuk belajar.

Ada waktu untuk beribadah.

Ada waktu untuk membaca Al-Qur'an.

Ada waktu untuk dzikir.

Ada waktu untuk muhasabah.

Dengan demikian, tarekat tidak semestinya dipahami sekadar sebagai kumpulan wirid. Lebih jauh dari itu, ia merupakan pendidikan kedisiplinan jiwa.

Seorang murid belajar menjaga lisannya.

Ia belajar menjaga pandangannya.

Ia belajar mengendalikan emosinya.

Ia belajar mengurangi perkataan yang tidak perlu.

Ia belajar meninggalkan ghibah, fitnah, dusta, kata-kata kasar, ucapan kotor, dan perkataan yang tidak bermanfaat.

Ia juga belajar memperbanyak istighfar ketika tergelincir.

an latihan yang terus-menerus, dzikir tidak lagi hanya berada di atas lisan, tetapi mulai membentuk kesadaran di dalam hati.

Imam Malik dan Kesatuan Fikih dengan Tasawuf

Ada ungkapan yang sangat populer dan dinisbatkan kepada Imam Malik رحمه الله:

«مَن تَفَقَّهَ ولم يَتَصَوَّفْ فقد تَفَسَّقَ، ومَن تَصَوَّفَ ولم يَتَفَقَّهْ فقد تَزَنْدَقَ، ومَن جَمَعَ بينهما فقد تَحَقَّقَ.»

“Barang siapa mendalami fikih tetapi tidak menempuh penyucian jiwa, dikhawatirkan ilmunya tidak melahirkan kesalehan. Barang siapa menempuh jalan tasawuf tetapi tidak mendalami fikih, dikhawatirkan jalan spiritualnya kehilangan pedoman. Dan barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai keseimbangan.”

Catatan: ungkapan tersebut masyhur dinisbatkan kepada Imam Malik, tetapi penisbatannya tidak mudah dibuktikan secara kuat. Karena itu, dalam tulisan ilmiah lebih tepat disebut sebagai ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Malik, bukan sebagai kutipan yang pasti berasal dari beliau.

Terlepas dari persoalan penisbatan tersebut, kandungan kalimat itu memberikan pelajaran penting: fikih dan tasawuf harus berjalan bersama.

Fikih mengajarkan bagaimana beribadah dengan benar.

Tasawuf mengajarkan bagaimana beribadah dengan ikhlas.

Fikih menjaga amal dari kesalahan hukum.

Tasawuf menjaga amal dari penyakit hati.

Fikih mengatur anggota badan.

Tasawuf mendidik hati.

Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah seorang Muslim yang bukan hanya benar amalnya, tetapi juga baik akhlaknya.

Ilmu, Dzikir, dan Akhlak

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya berapa banyak kitab yang telah dibaca atau berapa banyak masalah agama yang mampu dijelaskan.

Ukuran yang lebih dalam adalah:

Apakah ilmu itu membuat kita semakin takut kepada Allah?

Apakah ilmu membuat lisan kita semakin terjaga?

Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati?

Apakah ilmu membuat kita semakin mudah memaafkan?

Apakah ilmu membuat kita semakin bermanfaat bagi manusia?

Jika ilmu membawa kita kepada perubahan tersebut, maka ilmu telah mulai menjadi cahaya dalam kehidupan.

Karena itu, saya melihat hubungan ini sebagai sebuah mata rantai:

«العلم → العمل → الذكر → التزكية → الأخلاق → القرب من الله»

→ amal → dzikir → penyucian jiwa → akhlak → kedekatan kepada Allah.

Ilmu tanpa amal adalah pengetahuan yang belum menemukan buahnya.

Amal tanpa keikhlasan membutuhkan pembinaan hati.

Dzikir tanpa perubahan akhlak perlu direnungkan kembali kedalamannya.

Sedangkan ilmu, amal, dzikir, tazkiyah, dan akhlak yang berjalan bersama akan membentuk manusia yang saleh secara lahir dan batin.

Penutup

Maka, menurut hemat saya, belajar ilmu zhahir adalah kewajiban untuk mengetahui jalan syariat, sedangkan membina ilmu batin adalah kebutuhan untuk menjaga perjalanan tersebut agar tetap ikhlas dan berakhlak.

Adapun menempuh tarekat secara benar dapat menjadi salah satu sarana yang sangat baik untuk mendisiplinkan proses tersebut, khususnya bagi orang yang ingin menjaga dzikir, muraqabah, mujahadah, dan tazkiyatun nafs secara istiqamah.

Tarekat bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah Allah SWT.

Dzikir bukan sekadar banyaknya ucapan. Tujuannya adalah hadirnya hati bersama Allah.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan. Tujuannya adalah amal dan perubahan akhlak.

Dan syariat serta tasawuf bukan dua jalan yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah dua dimensi yang saling melengkapi: syariat menjaga kebenaran perjalanan, sedangkan tazkiyah menjaga kebersihan hati dalam perjalanan itu.

Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang berilmu, tetapi juga menjadi orang yang beramal; tidak hanya banyak berdzikir, tetapi juga semakin baik akhlaknya; tidak hanya memahami agama, tetapi juga semakin dekat kepada Allah SWT.

والله أعلم بالصواب.

Daftar Pustaka / Referensi

1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.

2. Al-Nawawi, Yahya ibn Syaraf. Maraqi al-‘Ubudiyyah Syarh Bidayah al-Hidayah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

3. Al-Haddad, ‘Abdullah ibn ‘Alawi. Al-Nasa’ih al-Diniyyah wa al-Wasaya al-Imaniyyah. Beirut: Dar al-Hawi.

4. Ibn Qudamah al-Maqdisi, Ahmad ibn ‘Abd al-Rahman. Mukhtasar Minhaj al-Qasidin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Catatan: karya ini merupakan ringkasan dari Minhaj al-Qasidin yang sebelumnya disusun oleh Ibn al-Jawzi berdasarkan tradisi keilmuan yang sangat dipengaruhi Ihya’ ‘Ulum al-Din. 

5. Al-Fauzi, Syekh Nuri Muhammad. Tafsir Ayat al-Muqarrabin.

6. Al-Fauzi, Syekh Nuri Muhammad. Al-Shafa wa al-Mujahadah.

7. ‘Isa, ‘Abd al-Qadir. Haqa’iq ‘an al-Tasawwuf. Halab: Dar al-‘Irfan. Karya ini secara khusus membahas pengertian tasawuf, pentingnya tasawuf, ilmu, mujahadah al-nafs, dzikir, serta maqamat seperti taubat, ikhlas, sabar, muraqabah, tawakal dan ridha. 

8. Al-Muhasibi, al-Harith ibn Asad. Al-Wasaya. Karya ini relevan untuk pembahasan pendidikan hati, muhasabah, dan pembinaan batin; karya tersebut juga dicantumkan sebagai salah satu rujukan dalam literatur tasawuf. 

9. Al-Qusyairi, ‘Abd al-Karim ibn Hawazin. Al-Risalah al-Qusyairiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

10. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Muhammad ibn Abi Bakr. Madarij al-Salikin bayna Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.


Jakarta: Selasa 22 September 2026.

Oleh: Dr. KH. Solahuddin.AR., MA.

Ketua Bidang Fatwa PB FORMULA

Dosen Ilmu Lughah dan Fiqhu Lughah, Fakultas Adab dan Tarbiyah

Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi


Ponpes Terpadu Al khobir.

 Penerimaan Santri / Santriwati Baru dan Pindahan Tingkat Mts/SMP & ALiyah / MA.

Alamat : Jl.Raya H.Darip, KM 17,Kel. Jatinegara Kaum, kec. Pulogadung kelender Jakarta Timur. Kode Pos : I3250.

Pimpinan :Dr.KH. Solahuddin Abdul Racman.MA.  Hp : 081316579174.