Kementan Fokus Modernisasi SDM, Penelitian UNM Ungkap Kelemahan Evaluasi Pelatihan Teknis

By Achmad Soleh 18 Nov 2025, 22:10:26 WIB Bisnis
Kementan Fokus Modernisasi SDM, Penelitian UNM Ungkap Kelemahan Evaluasi Pelatihan Teknis

Keterangan Gambar : Andi Amal Hayat Makmur


BERNUSA.COM, Makassar,— Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi fokus penting Pemerintah Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produktivitas dan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sektor pertanian melalui pelatihan vokasional sebagai strategi kunci peningkatan kompetensi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada pangan dan modernisasi pertanian hanya dapat dicapai melalui penguatan kualitas SDM.

 “SDM adalah elemen krusial dalam pembangunan pertanian. Kita bertanggung jawab mencetak SDM berkualitas dan kompeten,” tegas Amran.

Baca Lainnya :

Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi merupakan syarat utama dalam mendongkrak produktivitas dan kualitas pertanian nasional.

 “Kemajuan pertanian kita sangat bergantung pada kemampuan dan kompetensi SDM. Karena itu, kami berkomitmen meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan berkualitas,” ujar Mentan.

Peneliti UNM Kembangkan Model Evaluasi Pelatihan Pertanian

Di tengah komitmen tersebut, Andi Amal Hayat Makmur, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan BPPSDMP Kementan, mendorong penyempurnaan model evaluasi pelatihan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan vokasional di sektor pertanian.

Gagasannya dituangkan dalam disertasi berjudul “Pengembangan Model Evaluasi Peserta Pelatihan Pertanian (Studi Pelatihan Teknis Operator Traktor Roda 2)”, yang telah disahkan oleh Promotor Prof. Dr. Syahrul, M.Pd., dan Ko-Promotor Prof. Dr. Purnamawati, M.Pd.

Menurut Andi Amal, pelatihan harus menjadi instrumen peningkatan kapasitas kerja secara menyeluruh.

 “Peningkatan kualitas SDM adalah faktor penentu percepatan pembangunan. Pelatihan harus mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja,” jelasnya.

Evaluasi Pelatihan Dinilai Terlalu Berbasis Tes Tertulis

Dalam penelitiannya, Andi Amal menemukan bahwa pelatihan vokasional Kementan melalui berbagai UPT masih terlalu menekankan evaluasi secara teoretis melalui pre-test dan post-test.

Padahal, pelatihan teknis—seperti operator traktor roda dua—membutuhkan penilaian keterampilan praktik yang sistematis.

 “Keterampilan tidak diukur secara sistematis. Rencana pembelajaran masih bersifat generik dan belum berbasis hasil evaluasi awal,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi ini menjadi hambatan bagi pencetakan tenaga kerja pertanian yang profesional, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

Dorong Model Evaluasi Komprehensif dan Aplikatif

Melalui penelitian ini, Andi Amal menawarkan model evaluasi yang lebih komprehensif dengan mengukur aspek kognitif sekaligus psikomotorik. Model yang dikembangkan bukan untuk mengubah substansi pelatihan, melainkan menyempurnakan bagian yang masih lemah.

 “Tujuan akhirnya menyediakan pedoman evaluasi yang jelas, sistematis, dan aplikatif,” ujarnya.

Ia berharap model evaluasi tersebut dapat menjadi standar bagi UPT Pelatihan Kementan di seluruh Indonesia.

Kontribusi untuk Modernisasi Pertanian

Andi Amal menyebut bahwa langkah Kementan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi sudah berada pada jalur yang tepat. Oleh karena itu, penyempurnaan evaluasi menjadi bagian penting dalam mencetak SDM pertanian yang siap menghadapi tantangan modernisasi pertanian nasional.

 “Harapan saya, hasil penelitian ini dapat membantu pemerintah dan lembaga pelatihan memastikan bahwa setiap peserta benar-benar memiliki kompetensi sesuai standar,” tutupnya. (AS/BN).