- Jelang Hari Anak Nasional, Ghost Buzzer Tawarkan Hiburan Keluarga dengan Nuansa Horor Edukatif
- Ketum Skiber Nyatakan Sikap Siap Mendukung Dan Mengawal Program Prabowo-Gibran Hingga Akhir Masa Jabatan 2029
- RISNU: Khitanan Massal di Ikuti 40 Anak Dari Berbagai Wilayah Sekitar Kalibata
- Ribuan Jamaah Meriahkan Pawai Obor dan Gempita Muharram 1448 H di Masjid Gurudin Kalibata
- PDMI Desak Kepastian Hukum bagi 1.023 Dokter Muda Retaker UKMPPD
- Wamenaker dan Desk Ketenagakerjaan Mabes Polri Tangani Sengketa PHK PT Amos Indah Indonesia.
- Acara Wisuda dan Rekreasi Renang PAUD Melati 08 Kalibata Berlangsung Ceria
- AHWA Jangan Kehilangan Ruh! PWNU DKI Serukan Kembali ke Qanun Asasi NU
- Pelibatan TNI Hadang Mahasiswa Demonstrasi Kemunduran Negara Demokrasi, KAMDAGRI Tanggung Jawab POLRI
- Gugum A. Ramdhani: Kesederhanaan Ali Khamenei Menjadi Teladan Kepemimpinan
Pengamat pangan Debi Syahputra: Putusan PN Jaksel Fakta Fitnah Tempo Soal Pembungkaman Pers Tidak Terbukti
.jpg)
Keterangan Gambar : poto.istimewa
Jakarta — Pengamat pangan Debi Syahputra menilai Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 684/Pdt.G/2025/PN Jkt.Sel yang menyatakan pengadilan tidak berwenang mengadili gugatan Kementerian Pertanian (Kementan) terhadap Tempo, telah membuka dua fakta besar:
Pertama, tuduhan bahwa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sedang melakukan pembungkaman pers tidak terbukti sama sekali.
Kedua, substansi kerugian petani akibat narasi “beras busuk” justru tidak tersentuh dan belum diuji di proses hukum mana pun.
Baca Lainnya :
- Mentan Amran: Bela Kementerian dan Petani, Bukan Pribadi Saya0
- Soal Gugatan ke Tempo, Hasan Nasbi: Ini Bukan Kriminalisasi, Tapi Hak Konstitusional0
- Kementan Tegaskan Tak Kriminalisasi Tempo, Hanya Uji Profesionalisme Lewat Jalur Hukum0
“Kalau eksepsi Tempo dikabulkan, berarti tidak ada tekanan dari kekuasaan.”
Menurut Debi Syahputra, keputusan pengadilan untuk mengabulkan eksepsi Tempo menunjukkan bahwa narasi soal intervensi kekuasaan terhadap media tidak berdasar.
“Fakta paling sederhana adalah ini Tempo meminta pengadilan menyatakan tidak berwenang, dan pengadilan mengabulkannya. Kalau betul ada tekanan kekuasaan atau pembungkaman pers, mustahil eksepsi mereka diterima begitu saja.
Jadi isu pembungkaman itu hanya opini, bukan fakta,” tegas Debi.
“Sayangnya, substansi kerugian petani justru belum diuji.”
Debi menilai publik perlu memahami bahwa putusan PN Jaksel hanya terkait kewenangan pengadilan, bukan materi pokok perkara.
“Ketika pengadilan menyatakan tidak berwenang, artinya tidak satu pun argumen tentang kerugian petani diperiksa.
Padahal narasi ‘beras busuk’ yang disebarkan ke publik sudah menimbulkan stigma nasional terhadap petani. Ini merusak martabat dan harga diri mereka,” jelasnya.
Menurut Debi, dampak sosial dari pemberitaan tersebut nyata: dari petani kesulitan menjual gabah, sampai turunnya kepercayaan konsumen terhadap beras lokal.
“Media punya kebebasan, tapi mesti ingat: ada 160 juta petani yang menanggung akibat.”
Debi menekankan bahwa kebebasan pers bukan berarti media bebas dari tanggung jawab terhadap dampak sosial.
“Media itu pilar demokrasi, benar. Tapi ketika narasi yang dibangun menyakiti 160 juta petani, maka harus ada ruang klarifikasi dan koreksi. Menang eksepsi bukan berarti isi pemberitaan Tempo benar atau bebas dari beban etis,” ujarnya.
Debi menjelaskan bahwa langkah Kementan menggugat Tempo adalah tindakan yang sah dan konstitusional.
“Kementan itu institusi negara yang memikul amanat pangan. Ketika petani dirugikan oleh stigmatisasi nasional, wajar jika negara melakukan pembelaan hukum. Itu bukan pembungkaman pers, itu bentuk perlindungan terhadap warga,” katanya.
Menurut Debi, putusan PN Jaksel bukan akhir dari perjuangan hukum, melainkan penanda bahwa perkara ini harus dilanjutkan di forum yang tepat.
“Kementan masih punya ruang langkah hukum lain. Yang penting adalah memastikan bahwa kerugian petani—yang selama ini hanya menjadi korban pemberitaan—akhirnya diperiksa dalam proses hukum yang objektif,” ujar Debi.(AS/BNI).
_-_Copy.png)








_(1).png)

