- Munjirin: Penanganan Sampah Jakarta Timur Capai 729,72 Ton hingga Juli 2026
- Pemkab Bekasi Matangkan Regulasi Pilkades Serentak 2026, Fokus Wujudkan Demokrasi Desa Berkualitas
- 83 Ribu Koperasi Berbadan Hukum, LPDB Perkuat Ekosistem Pembiayaan Koperasi Indonesia
- Pasien Bayi Kembali Dirawat di NICU Usai Operasi, Rekan Indonesia Sumsel Soroti Pelayanan Kesehatan
- Babak Baru Partai Ummat, Sinergi Tokoh-Tokoh Muda Dan Kekuatan Jaringan Menuju Pemilu 2029
- Ketum DPP Rekat Indonesia Nyatakan Presiden Prabowo Dengan Tegas Perintahkan Tindakan Pejabat yang Terlibat Korupsi Dan Gratifikasi
- Khitanan Massal PAM JAYA Layani 2.067 Peserta, Raih Rekor MURI
- Pemprov DKI: Jakarta Kini Bersaing dengan Kota-Kota Besar Dunia
- Depot Bu Rudy Resmikan Sertifikat Halal Cabang Ke-6 Di Harbour City Nine Surabaya
- Transformasi Besar Stasiun Gambir Dimulai, KAI Investasi Rp1 Triliun dari Dana Internal
Pengamat Sebut Posisi AS dan Israel Terdesak, Iran Pegang Kendali di Selat Hormuz.

Keterangan Gambar : Gugum Awit Ramdhani, Pengamat Politik Timur Tengah Dan Aktivis KOMRAD 98
JAKARTA– Eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Republik Islam Iran dengan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel terus menuai perhatian global. Pengamat Politik Timur Tengah, Gugum Awit Ramdhani, menilai bahwa Washington dan Tel Aviv saat ini berada dalam posisi yang sulit untuk melanjutkan konfrontasi militer secara berkepanjangan.
Mengutip analisis dari mantan perwira intelijen AS, Scott Ritter, Gugum menjelaskan bahwa kekuatan Iran saat ini tidak bisa diremehkan, terutama terkait kendali mereka atas jalur logistik energi dunia.
"Secara geopolitik, Iran memegang kartu as di Selat Hormuz. Jika konflik terbuka pecah, dampak ekonominya tidak hanya akan memukul AS, tapi juga mengguncang stabilitas global. Scott Ritter benar ketika mengatakan Washington tidak punya solusi praktis jika jalur tersebut ditutup," ujar Gugum dalam keterangannya, Sabtu (11/04).
Baca Lainnya :
- Ketergantungan Impor Picu Krisis Plastik, Pemerintah Dorong Bioplastik Lokal0
- Langkah Nyata Pemerintah: Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi di Mimika0
- Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia0
- Indonesia Menuju Era Demokrasi Baru: Membaca Regresi Militerisme dengan Data, Teori, dan Fakta Mutakhir.0
- PRSI Kembangkan CNC Serbaguna, Perkuat Industri dan Siapkan Generasi Robotika0
Gugum juga menyoroti kritik terhadap kebijakan luar negeri Donald Trump yang dinilai sering kali mengabaikan realitas militer di lapangan. Menurutnya, serangan darat terhadap Iran merupakan skenario yang sangat dihindari oleh para perwira tinggi militer, meski narasi politik di Washington sering kali bernada agresif.
"Ada jurang pemisah antara retorika politik di Gedung Putih dengan kenyataan taktis. Seperti yang disampaikan analis militer, serangan darat ke wilayah Iran akan menjadi bunuh diri massal bagi pasukan yang dikirim. Iran memiliki topografi dan kesiapan pertahanan yang jauh lebih kompleks dibanding medan perang AS sebelumnya," tambah Gugum.
Selain aspek militer, Gugum Awit Ramdhani juga sepakat dengan pandangan analis David Swanson terkait legalitas tindakan Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa operasi militer tanpa mandat yang jelas merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB.
"Dunia internasional saat ini sedang memperhatikan bagaimana hukum internasional ditegakkan. Desakan agar Kongres AS menghentikan wewenang perang dan memblokir anggaran militer adalah langkah logis untuk mencegah kejahatan perang yang lebih besar," tegasnya.
Menutup keterangannya, Gugum mengingatkan bahwa tanpa diplomasi yang tulus, kawasan Timur Tengah akan terus berada di ambang kehancuran yang tidak hanya merugikan pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga tatanan hukum dan ekonomi dunia.
_-_Copy.png)








_(1).png)

