- IHSG Bangkit ke Level 5.278, Saham Bank BUMN Jadi Pendorong
- FisTx Indonesia Luncurkan KSO Budidaya Udang, Pertemukan Investor, Pemilik Lahan, dan Operator Berpengalaman di Sektor Pangan Strategis
- Rent Car Bravia, Layanan Sewa Mobil Harian hingga Bulanan di Jakarta dan Bali
- KAI Logistik Catat Kinerja 6,2 Juta Ton pada Triwulan III 2026, Tertinggi Sepanjang Tahun
- Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Cek Kesehatan Gratis, Kini Lebih Mudah Diakses
- Bahlil Pastikan Distribusi BBM Berangsur Normal, Bali Jadi Perhatian
- Neuron Digital Menjadi Perusahaan Teknologi Cerdas Pertama di Dunia yang Meraih BSI Kitemar untuk Digital Twins
- Momentum TEI ke-41 Dorong Ekspor dan Tingkatkan Daya Saing Produk
- Industri Kripto Indonesia Terus Tumbuh, Investor Perlu Pilih Platform Legal
- Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!
IHSG Bangkit ke Level 5.278, Saham Bank BUMN Jadi Pendorong
.jpg)
Keterangan Gambar : Gedung BNI( dok pribadi).
BERNUSA.COM, Jakarta, — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan tajam pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Kenaikan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan sejumlah bank BUMN menjadi salah satu pendorong utama pembalikan arah pasar saham Indonesia.
IHSG melonjak 5,65 persen atau naik 282,28 poin ke level 5.278,89. Sebelumnya, indeks sempat tertekan menyusul sentimen negatif terkait isu penurunan peringkat (downgrade) dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Saham BBNI menguat 8,78 persen ke level Rp3.220 per saham. Penguatan tersebut turut menopang sektor finansial dan memperkuat pergerakan indeks hingga mencapai posisi tertinggi saat penutupan perdagangan.
Baca Lainnya :
- FisTx Indonesia Luncurkan KSO Budidaya Udang, Pertemukan Investor, Pemilik Lahan, dan Operator Berpengalaman di Sektor Pangan Strategis0
- KAI Logistik Catat Kinerja 6,2 Juta Ton pada Triwulan III 2026, Tertinggi Sepanjang Tahun0
- Investasi Pertama di Usia 20-an: Hal yang Perlu Dipahami Sebelum Mulai0
- BNI Tingkatkan Layanan Wealth Management Lewat Pembaruan Wondr by BNI0
- BNI Tingkatkan Layanan Digital, Nasabah Emerald dan Private Kini Makin Mudah Akses Benefit0
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 4.980,16 dan bergerak menguat sepanjang perdagangan hingga berakhir di level 5.278,89.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai kenaikan IHSG lebih dari 5 persen merupakan *technical rebound* setelah pasar mengalami tekanan selama dua hari perdagangan akibat sentimen negatif MSCI.
Menurut Nafan, respons BEI terhadap persoalan transparansi pasar turut mendukung penguatan indeks. Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau *High Shareholding Concentration* (HSC) dari perhitungan indeks.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya awal untuk meningkatkan transparansi sekaligus memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor.
Selain itu, investor mulai memanfaatkan penurunan harga saham untuk melakukan akumulasi melalui strategi *buy on weakness*. Strategi ini dilakukan dengan membeli saham saat harganya melemah, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami tekanan jual signifikan.
Upaya regulator dalam menjaga stabilitas pasar juga dinilai membantu meredakan kepanikan dan memperbaiki sentimen investor dalam jangka pendek.
Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa lonjakan IHSG belum menjadi bukti bahwa kepercayaan investor telah pulih sepenuhnya.
Menurutnya, penguatan pasar perlu diikuti arus masuk dana yang berkelanjutan, penurunan tekanan jual investor asing, serta pelaksanaan reformasi tata kelola dan transparansi pasar modal secara konsisten.
“Untuk saat ini penguatan IHSG lebih tepat dipandang sebagai pemulihan teknikal yang didukung respons kebijakan, sedangkan pemulihan kepercayaan investor secara fundamental masih membutuhkan waktu dan bukti nyata dari perbaikan pasar,” papar Nafan.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan Selasa menjadi sinyal pemulihan jangka pendek. Namun, keberlanjutan tren positif pasar masih bergantung pada konsistensi reformasi, transparansi, dan perkembangan kepercayaan investor.(AS/BN).
_-_Copy.png)








_(1).png)
