- Industri Kripto Indonesia Terus Tumbuh, Investor Perlu Pilih Platform Legal
- Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!
- BRI Region 11 Yogyakarta Perkuat Sinergi dengan Polda DIY
- 43 Perahu Hias dari Barang Bekas Meriahkan Festival CiLung 2026 di Danau Sunter
- Halte Kota Bambu: Ketika Akses Menuju Rumah Sakit Justru Menyulitkan Pasien
- Waskita Beton Precast Perkuat Lini Bisnis dan Jaga Kinerja Operasional melalui Efisiensi
- KAI Logistik Catat Angkutan CPO 62 Ribu Ton, Perkuat Rantai Pasok Strategis
- Kemenkop Tegaskan KDKMP Jadi Peluang Kerja dan Peluang Usaha Baru bagi Generasi Muda di Desa
- GEMA Motorcars Perkenalkan Koleksi Rare Cars, dari G-Class Limited Edition hingga Porsche 718 Spyder RS
- Haiti: Ketika Kekuasaan Menjadi Warisan Keluarga
Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!

Keterangan Gambar : Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!
Bernusa.com. HULU SUNGAI SEMBRA – Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer bersama sejumlah pemilik hak ulayat di hulu Sungai Sembra menyatakan penolakan terhadap rencana investasi perusahaan pabrik air minum dalam kemasan di kawasan tersebut. Mereka meminta dukungan berbagai pihak, mulai dari organisasi kepemudaan (OKP) Cipayung, pemuda adat, lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan, hingga lembaga bantuan hukum (LBH), untuk mengawal perlindungan hak ulayat dan kelestarian Sungai Sembra.
Penolakan tersebut kembali disuarakan melalui aksi jumpa pers di bantaran Sungai Sembra pada Minggu (18/10). Para pemilik hak ulayat dan pemuda adat menilai rencana investasi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena Sungai Sembra merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat setempat.
Ketua Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer, Darius Sreifi, dalam pernyataannya meminta dukungan berbagai elemen masyarakat untuk membantu perjuangan mereka mempertahankan wilayah adat dan menjaga kelestarian sungai.
Baca Lainnya :
- Arief Nasrudin Paparkan Transformasi PAM JAYA di Forum Investor Daily, Target 100 Persen Layanan Air Perpipaan0
- Sinarmas Sekuritas Hadirkan Emiten Talks Jelang Outlook 20260
“Saya meminta bantuan dan dukungan dari teman-teman OKP Cipayung, pemuda adat, LSM lingkungan, dan semua pihak untuk membantu kami,” ujar Darius.
Polemik rencana investasi ini telah berlangsung sejak 3 Oktober 2026, ketika sosialisasi awal digelar di Kantor Kampung Srer. Pertemuan yang difasilitasi Kepala Distrik Seremuk tersebut memunculkan perbedaan sikap di antara warga pemilik hak ulayat. Hingga kini, kedua kelompok belum mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Perbedaan sikap itu kemudian muncul secara terbuka. Pada 14 Oktober 2026, sejumlah warga yang menolak investasi menggelar jumpa pers di bantaran Sungai Sembra. Sehari kemudian, pada 15 Oktober 2026, kelompok warga yang mendukung investasi juga menggelar jumpa pers untuk menyampaikan sikap penerimaan mereka.
Aksi penolakan kembali digelar pada 18 Oktober 2026. Kali ini, warga yang menolak tidak hanya menyampaikan keberatan terhadap rencana investasi, tetapi juga mengajak masyarakat luas untuk terlibat dalam upaya menjaga sungai dan memperjuangkan hak masyarakat adat.
Perwakilan Marga Kalilago, Marlon Kawilatu, mengajak seluruh pemuda Suku Srer untuk memperkuat solidaritas dan tidak mudah terpengaruh oleh janji-janji yang ditawarkan pihak tertentu.
“Saya mengajak semua pemuda Suku Srer untuk mari sama-sama rapatkan barisan. Jangan tergiur dengan janji supermi dan uang. Mari rapatkan barisan untuk menolak investor air yang kami khawatirkan akan merusak Sungai Sembra,” tegas Marlon.
Ia menegaskan bahwa Sungai Sembra merupakan sumber kehidupan masyarakat yang harus dijaga. Menurutnya, kondisi sungai yang saat ini masih jernih perlu dipertahankan agar tidak mengalami perubahan kualitas akibat aktivitas investasi di kawasan hulu.
“Sekarang air Sembra masih bagus dan jernih. Jangan sampai nanti investor masuk, lalu air berubah warna. Pemerintah dan investor mau datang, tetapi ini bukan air milik pemerintah atau investor. Ini air kami,” ujarnya.
Sikap penolakan masyarakat juga tergambar dalam sejumlah poster yang dibawa saat aksi. Salah satunya berbunyi, “Suku Srer bukan saja hidup dari investor, tetapi Suku Srer hidup dari hasil alam yang sudah disediakan Tuhan kepada kami, Suku Srer.”
Poster lainnya menyuarakan kekhawatiran terhadap masa depan generasi mendatang apabila sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat diserahkan untuk kepentingan investasi.
Bagi para pemuda adat yang menolak, persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan masuk atau tidaknya perusahaan ke wilayah tersebut. Mereka menempatkan keberlanjutan lingkungan, perlindungan hak ulayat, serta masa depan masyarakat adat sebagai pertimbangan utama dalam menyikapi rencana investasi.
Karena itu, mereka berharap pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak mengabaikan aspirasi warga yang menolak. Dialog yang terbuka, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, serta kajian lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan dinilai penting sebelum keputusan mengenai rencana investasi diambil.
Melalui aksi tersebut, Komunitas Pemuda Adat Slow Bailo Suku Srer dan para pemilik hak ulayat mengajak masyarakat Sorong Selatan, organisasi kepemudaan, komunitas pemuda adat, aktivis lingkungan, serta lembaga bantuan hukum untuk memberikan perhatian dan dukungan terhadap perjuangan mereka.
Mereka menegaskan bahwa Sungai Sembra bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari ruang hidup masyarakat adat yang harus dijaga keberlanjutannya.
_-_Copy.png)








_(1).png)
