Menkes Budi Gunadi Dorong Bedah Robotik dan AI, Indonesia Bidik Jadi Pusat Teknologi Kesehatan

By Achmad Soleh 28 Jul 2026, 17:25:18 WIB Robotika
Menkes Budi Gunadi Dorong Bedah Robotik dan AI, Indonesia Bidik Jadi Pusat Teknologi Kesehatan

Keterangan Gambar : Acara peringatan hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta


BERNUSA.COM, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat transformasi layanan kesehatan nasional melalui pengembangan teknologi bedah robotik. Pemerintah menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, membangun ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), memperluas pelatihan dokter, hingga mendorong alih teknologi guna memperkuat kemandirian industri alat kesehatan dalam negeri.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peringatan hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta sekaligus peluncuran kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (28/7/2026).

Menkes Budi mengatakan, robotik menjadi satu dari tiga teknologi kesehatan prioritas yang dikembangkan pemerintah bersama kecerdasan artifisial (AI) dan bioteknologi. Menurutnya, teknologi ini mampu meningkatkan kualitas pelayanan medis melalui tindakan operasi yang lebih presisi, mengurangi rasa nyeri, serta mempercepat proses pemulihan pasien.

Baca Lainnya :

    "Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau," ujar Budi Gunadi Sadikin.

    Ia mengakui pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Karena itu, Kemenkes membentuk Komite Robotik Kesehatan yang akan menyusun arah pengembangan teknologi robotik nasional, mulai dari standar pelayanan, kebutuhan teknologi, hingga strategi agar layanan bedah robotik dapat diakses masyarakat dengan biaya lebih terjangkau.

    Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji skema pembiayaan bersama BPJS Kesehatan agar layanan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat lebih luas.

    Sebagai langkah awal, Kemenkes memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi dokter dalam melakukan berbagai operasi modern, seperti hernia, usus buntu, kantung empedu, hingga bedah digestif lainnya.

    "Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar," tegasnya.

    Pengembangan bedah robotik juga akan terintegrasi dengan pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Saat ini Kemenkes tengah membangun tiga basis data nasional yang mencakup data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Data tindakan bedah robotik nantinya akan menjadi bagian dari sistem AI yang membantu dokter meningkatkan akurasi pengambilan keputusan klinis.

    "AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis," jelas Menkes.

    Untuk mendukung keberlanjutan program, Kemenkes juga akan mewajibkan transfer teknologi dalam setiap pengadaan robot bedah, terutama untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya layanan sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.

    Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menyatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan riset teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan AI. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan tenaga medis menjadi kunci lahirnya inovasi teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

    "Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global," ujarnya.

    Sementara itu, Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk Ivan Rizal Sini mengatakan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik merupakan hasil pengembangan layanan bedah minimal invasif selama lebih dari satu dekade. Rumah Sakit Bunda siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan dan transfer pengetahuan kepada dokter dari berbagai daerah.

    Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri, Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.(AS/BN).