- Prabowo Salurkan 160 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Kota Bogor
- Kapal Legendaris KRI Dewaruci Bersandar di Cirebon, Ada Wisata Edukasi Maritim Gratis
- Perkuat Ekosistem Layanan Rumah Sakit, BRI Insurance Hadirkan Medical Malpractice Insurance
- Cakra Elektrolisis, Teknologi Sterilisasi Air Tambak Karya Anak Bangsa, Mulai Dipercaya Tambak Besar di Pulau Jawa
- Psikologi dan Manajemen Risiko: Aryasatya Wishnutama Tekankan Manusia di Sektor Energi
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Gebyar Lelang BRI Serentak di 74 Lokasi di Seluruh Indonesia
- Menkop Tekankan Koperasi di Luwu Timur Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan
- 12 Tahun Waskita Beton Precast, Menata Fondasi, Meningkat Lebih Tinggi
- Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan
- Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Akan Dioperasikan dengan Tarif Mulai 14 Oktober 2026 Pukul 00:00 WIB
Luhut dan Meutya Hafid Soroti Tantangan AI: Indonesia Harus Bangun Kapasitas Sendiri

Keterangan Gambar : World Encounter Summit 2026 di Bali Bahas Masa Depan Manusia di Tengah Ledakan AI
BERNUSA.COM, Bali, – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan manusia. Apakah teknologi akan membuat kehidupan menjadi lebih baik atau justru menghilangkan sisi mendasar dari kemanusiaan?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum diawali melalui Bali Harmony Dialogue pada Kamis (3/9/2026) di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Baca Lainnya :
- PSI Soroti Perubahan Desil Mendadak yang Bikin Warga Kehilangan Akses Bansos0
- DPP Partai Ummat Mengucapkan Selamat Atas Terpilihnya Gus Kikin Jadi Ketum PBNU Baru Masa Khidmah 2026-20310
- Tawaran Pinjaman IMF Ditolak, Prabowo: Indonesia Masih Mampu Bangun Negeri0
- Dugaan Kekerasan Usai Demo 27 Agustus, SPAI Desak Polri Tindak Tegas dan Evaluasi Pelibatan Ormas0
- Jaga Perbatasan, Rawat Alam, Kuatkan UMKM: Pesan Ekspedisi Batas Negeri dari Temajuk0
Forum kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 yang berlangsung pada 4-6 September 2026.
Peserta dari lima benua membahas berbagai dampak perkembangan AI terhadap kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Kesenjangan AI Jadi Perhatian
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah kesenjangan dalam perkembangan dan pemanfaatan AI.
Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, sumber daya manusia bertalenta, maupun kemampuan untuk mengatur perkembangan teknologi.
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai tidak hanya menjadi persoalan teknologi. Isu tersebut juga berkaitan erat dengan keadilan sosial, ekonomi, moral, hingga lingkungan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan menegaskan Indonesia harus membangun kapasitas teknologi sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna AI.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," tandas Luhut.
Menurutnya, penguatan kapasitas nasional menjadi penting agar Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan AI secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
Meutya: Penggunaan AI Tak Otomatis Jadi Kapasitas Nasional
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menyoroti tingginya penggunaan AI di kalangan generasi muda Indonesia.
Menurutnya, tingginya adopsi AI harus diiringi dengan penguatan riset, talenta digital, infrastruktur, serta kebijakan yang mendukung pengembangan teknologi di dalam negeri.
"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi pencipta teknologi, bukan hanya menjadi pasar bagi produk-produk AI yang dikembangkan negara lain.
Karena itu, penguatan ekosistem AI nasional dinilai menjadi salah satu kunci agar manfaat perkembangan teknologi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
AI Harus Tetap Berpihak pada Manusia
Sementara itu, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mesin.
Menurutnya, dunia juga perlu menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama perkembangan teknologi tersebut.
Pandangan itu menegaskan bahwa kemajuan AI perlu diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi tidak cukup hanya dinilai dari seberapa canggih kemampuannya, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan masyarakat.
World Encounter Summit 2026 di Bali pun menjadi ruang dialog global untuk mencari titik temu antara kemajuan teknologi dan kebutuhan menjaga nilai kemanusiaan.(AS/BN).
_-_Copy.png)




.jpg)




_(1).png)
