- KAI Logistik Catat Kinerja 6,2 Juta Ton pada Triwulan III 2026, Tertinggi Sepanjang Tahun
- Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Cek Kesehatan Gratis, Kini Lebih Mudah Diakses
- Bahlil Pastikan Distribusi BBM Berangsur Normal, Bali Jadi Perhatian
- Neuron Digital Menjadi Perusahaan Teknologi Cerdas Pertama di Dunia yang Meraih BSI Kitemar untuk Digital Twins
- Momentum TEI ke-41 Dorong Ekspor dan Tingkatkan Daya Saing Produk
- Industri Kripto Indonesia Terus Tumbuh, Investor Perlu Pilih Platform Legal
- Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!
- BRI Region 11 Yogyakarta Perkuat Sinergi dengan Polda DIY
- 43 Perahu Hias dari Barang Bekas Meriahkan Festival CiLung 2026 di Danau Sunter
- Halte Kota Bambu: Ketika Akses Menuju Rumah Sakit Justru Menyulitkan Pasien
Tawaran Pinjaman IMF Ditolak, Prabowo: Indonesia Masih Mampu Bangun Negeri
.jpg)
Keterangan Gambar : Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.(Istimewa).
BERNUSA.COM, Jakarta — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Keputusan tersebut diambil karena pemerintah menilai Indonesia masih memiliki kemampuan untuk membiayai pemerintahan dan pembangunan tanpa bergantung pada pinjaman IMF.
Prabowo menegaskan pemerintah tetap membuka pintu bagi investasi asing. Namun, untuk pinjaman, pemerintah akan menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan besarnya bunga serta dampaknya terhadap keuangan negara.
“Kita sekarang berusaha tidak mau terlalu banyak pinjam-pinjam uang dari mana-mana. Ajak investasi boleh. Kalau kita pinjam uang, kita mau pinjam uang yang bunganya sekecil mungkin,” kata Prabowo, Senin (31/8/2026).
Baca Lainnya :
- Presiden Prabowo Turun ke Lokasi Karhutla Kubu Raya, Petugas Diberi Arahan0
- Kemenhub: Keselamatan Pelayaran Tak Boleh Dikompromikan0
- LPDB Koperasi Genap 20 Tahun, Fokus Perluas Pembiayaan Sektor Riil hingga Desa0
- Tak Perlu Angkat Tabung LPG, Jargas Jadi Solusi Hemat dan Aman bagi Rumah Tangga0
- Festival Bunga dan Buah Kab.Karo, Menkop Tegaskan Koperasi Jadi Wadah Potensi Ekonomi Daerah0
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menjelaskan strategi pemerintah dalam menjaga kemandirian pembiayaan pembangunan nasional.
Menteri Keuangan Ditawari Pinjaman IMF
Prabowo kemudian mengungkapkan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mendapatkan tawaran pinjaman dari IMF ketika berada di Washington DC, Amerika Serikat.
Menurut Prabowo, tawaran tersebut akhirnya ditolak oleh pemerintah Indonesia.
“Saya kira kemarin beberapa bulan yang lalu, kaget. Menteri Keuangan kita di Washington DC ditawarin pinjaman dari IMF, kita tolak,” ujar Prabowo.
Presiden menilai keputusan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menjalankan pembangunan tanpa harus mengandalkan pembiayaan dari IMF.
“Terima kasih, Indonesia masih bisa tanpa pinjaman dari IMF,” tegasnya.
Utamakan Investasi, Selektif Berutang
Prabowo mengatakan pemerintah tidak menutup diri terhadap sumber pendanaan dari luar negeri. Namun, pemerintah membedakan antara investasi dan pinjaman.
Investasi asing tetap didorong karena dapat membawa modal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mendukung pembangunan. Sementara itu, pinjaman harus dipertimbangkan secara lebih ketat karena menimbulkan kewajiban pembayaran pokok dan bunga.
Karena itu, pemerintah akan memilih sumber pinjaman dengan tingkat bunga serendah mungkin agar tidak menambah tekanan terhadap anggaran negara.
Strategi tersebut, menurut Prabowo, merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kesehatan fiskal sekaligus memastikan anggaran negara lebih banyak diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
Efisiensi BUMN Jadi Bagian Strategi Pemerintah
Selain mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman, pemerintah juga melakukan efisiensi melalui penataan perusahaan milik negara.
Prabowo menyebut sebanyak 290 BUMN telah ditutup dalam hampir dua tahun pemerintahan. Langkah tersebut, menurutnya, menghasilkan penghematan sekitar Rp50 triliun.
Pemerintah bahkan menargetkan kembali menutup sedikitnya 700 BUMN hingga 31 Desember 2026.
Efisiensi tersebut dilakukan terhadap perusahaan negara yang dinilai tidak memiliki kinerja memadai. Pemerintah berharap langkah itu dapat mengurangi beban biaya rutin dan memperbaiki pengelolaan keuangan negara.
Anggaran yang berhasil dihemat selanjutnya diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih besar dan langsung kepada masyarakat.
Target Besar: Angkat Jutaan Rakyat dari Kemiskinan
Prabowo menegaskan efisiensi anggaran dan strategi pembiayaan pemerintah bukan semata-mata untuk mengejar penghematan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat program pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Presiden mengatakan pemerintah memiliki target besar untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia.
“Saya sudah hitung dengan cermat sampai ke rupiah-rupiahnya. Saya sudah hitung dan saya yakin dan percaya kita akan berhasil. Kita akan mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan,” tutur Prabowo.
Dengan kebijakan tersebut, pemerintah ingin memastikan setiap rupiah anggaran negara digunakan secara efektif, sementara pembiayaan dari luar negeri hanya ditempuh apabila memberikan manfaat dan tidak menimbulkan beban bunga yang berlebihan bagi negara.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
