- Perang yang Menagih Harga: Dari Langit Tel Aviv ke Kantong Warganya
- Mengubah Perang Ikan Sapu-Sapu Menjadi Kebijakan Sungai Berbasis Bukti
- Menuju Kemandirian Teknologi, PRSI Apresiasi Langkah UHB Buka Prodi Robotika dan AI
- Wali Kota Munjirin Pimpin Gerakan Terpadu Penangkapan Ikan Sapu-Sapu
- Selamat Jalan Zulmansyah Sekedang, Sosok Penggerak Profesionalisme Wartawan Indonesia
- Gubernur Pramono Anung Dorong BUMD Jakarta Berani Ekspansi
- Forum Pemimpin BUMD Jakarta: Strategi Baru Bangun Ekonomi Daerah Berkelanjutan
- PB Formula Apresiasi Silaturahmi Nasional MUI dan Ormas Islam Perkuat Ukhuwah untuk Keadilan dan Perdamaian Dunia
- Tak Cukup Andalkan APBD, BPD Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Regional
- Sekjen Propindo Heikal Safar SH Desak Tindak Tegas Mahasiswa UI Diduga Terbukti Bersalah Lakukan Aksi Amoral Terhadap Mahasiswi Dan Dosen Perempuan
Perang yang Menagih Harga: Dari Langit Tel Aviv ke Kantong Warganya

Keterangan Gambar : Tel Aviv Beberkan Kerugian Akibat Serangan Iran
TEL AVIV— Perang sering dipresentasikan sebagai soal kemenangan militer, peta strategis, dan supremasi teknologi. Namun di Tel Aviv hari ini, narasi itu retak oleh kenyataan yang lebih sunyi: rumah-rumah yang tak lagi bisa dihuni, klaim ganti rugi yang menumpuk, dan ekonomi yang mulai tersengal.
Pernyataan Wali Kota Ron Huldai—yang menyebut lebih dari seribu unit hunian rusak akibat serangan—bukan sekadar data. Ia adalah penanda bahwa perang telah menyeberang dari garis depan ke ruang tamu warga sipil. Rudal dan drone mungkin datang dari jauh, tetapi dampaknya jatuh tepat di jantung kehidupan sehari-hari.
Laporan Channel 12 dan Arabi21 memperlihatkan bagaimana kerusakan tidak hanya disebabkan oleh serangan langsung, tetapi juga oleh pecahan dari sistem pertahanan itu sendiri. Ini ironi modern: teknologi yang dirancang untuk melindungi, dalam batas tertentu, juga menciptakan risiko baru. Perlindungan tidak pernah benar-benar tanpa biaya.
Baca Lainnya :
- Pengamat Sebut Posisi AS dan Israel Terdesak, Iran Pegang Kendali di Selat Hormuz.0
- Di Balik Gugurnya Prajurit TNI, Kritik Muhammad Husein Menyasar Arah Diplomasi Indonesia0
- Iran Tegaskan Dukungan ke Hizbullah, Kirim Pesan Langsung ke Sekjen Baru0
- Saat Ibu Mulai Lupa: Kisah Emosional dalam Film, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan0
- BOP: Jalan Pintas Damai atau Cara Baru Mengatur Dunia?0
Di sisi lain, angka-angka ekonomi berbicara lebih keras dari propaganda. Estimasi biaya perang 40 hari yang mencapai 17,5 miliar dolar AS—belum termasuk rekonstruksi dan kehilangan produktivitas—menunjukkan satu hal sederhana: perang adalah mesin pembakar sumber daya. Bahkan konflik 12 hari pada 2025 saja sudah meninggalkan tagihan miliaran dolar, sebagaimana dilaporkan Calcalist.
Lebih dari 30 ribu klaim kompensasi yang diajukan warga bukan sekadar statistik administratif. Ia adalah cermin dari tekanan sosial-ekonomi yang mulai mengendap: rumah rusak, kendaraan hancur, alat kerja lenyap. Negara boleh menjanjikan penggantian, tetapi prosesnya selalu lebih lambat dari kerusakan yang terjadi dalam hitungan detik.
Di titik ini, perang memperlihatkan wajahnya yang paling jujur. Ia tidak hanya menguji ketahanan militer, tetapi juga daya tahan fiskal dan psikologis sebuah masyarakat. Setiap intersepsi rudal memang mencegah kehancuran yang lebih besar, tetapi setiap intersepsi juga memiliki harga—baik dalam bentuk biaya operasional maupun risiko pecahan yang jatuh ke wilayah sipil.
Narasi lama tentang keunggulan pertahanan seperti kubah pelindung kini berhadapan dengan realitas baru: tidak ada “kubah” yang mampu sepenuhnya melindungi ekonomi. Anggaran negara bisa terkuras, aktivitas bisnis melambat, dan kepercayaan publik perlahan tergerus.
Pada akhirnya, perang selalu menciptakan dua jenis kerugian: yang langsung terlihat dan yang diam-diam menggerogoti. Yang pertama hadir dalam bentuk bangunan runtuh dan kendaraan terbakar. Yang kedua hadir dalam bentuk defisit, utang, dan masa depan ekonomi yang menyempit.
Dan seperti semua perang, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang hari ini, tetapi siapa yang mampu bertahan besok setelah semua tagihan datang.
_-_Copy.png)





_(1).png)


.jpg)