Ilhamsyah: Bapor Tak Boleh Sekadar Jadi Pengawal Aksi, Buruh Harus Bangun Kekuatan Politik

By Goenk1975 24 Okt 2026, 19:05:08 WIB DKI Jakarta
Ilhamsyah: Bapor Tak Boleh Sekadar Jadi Pengawal Aksi, Buruh Harus Bangun Kekuatan Politik

Keterangan Gambar : Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI Saat Memberikan Arahan Tentang Fungsi Bapor di Serikat Buruh


Bernusa.com. JAKARTA — Perjuangan buruh tidak cukup berhenti pada demonstrasi dan pemogokan. Tanpa organisasi yang kuat, kader yang terdidik, serta struktur yang mengakar di pabrik dan permukiman, semangat perlawanan berisiko kehilangan daya untuk mendorong perubahan mendasar.

Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Ilhamsyah, menekankan pentingnya menjadikan pengalaman panjang gerakan buruh sebagai pijakan untuk memperkuat organisasi dan mempersiapkan kader yang mampu memimpin perjuangan.

“Perjalanan panjang membangun serikat buruh mengajarkan kita banyak hal. Berbagai pengalaman perjuangan, kemenangan maupun kekalahan, harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki dan memperkuat organisasi. Ini perjuangan panjang,” demikian penekanan dalam seruan bertajuk Tanggung Jawab Sejarah tersebut yang disiarkan hari ini (24/10).

Baca Lainnya :

Menurut Ilhamsyah, perubahan struktural dan mendasar tidak cukup hanya mengandalkan semangat perlawanan. Gerakan buruh membutuhkan organisasi yang kuat, basis anggota yang terdidik, terpimpin dan terorganisasi, serta kader-kader yang militan, disiplin, dan memiliki kemampuan mengorganisir.

“Bapor bukan sekadar pengawal demonstrasi atau pemogokan. Bapor harus menjadi barisan kader terdepan yang mampu melakukan propaganda, membangun kekuatan basis, menjalankan advokasi kasus perburuhan dan persoalan rakyat, hingga memperkuat struktur perjuangan politik di tingkat teritorial,” demikian pesan yang disampaikan dalam seruan tersebut.

Pernyataan itu menempatkan Barisan Pelopor (Bapor) bukan semata-mata sebagai unsur pengamanan aksi, melainkan sebagai bagian dari kekuatan pengorganisasian yang bekerja membangun basis, mendampingi persoalan rakyat, dan memperluas jangkauan perjuangan politik.

Ilhamsyah juga menyoroti pentingnya menyiapkan kader-kader terbaik untuk menjalankan tugas organisasi yang lebih besar. Kader tidak hanya dituntut memiliki keberanian menghadapi lawan, tetapi juga kemampuan membangun organisasi dan memimpin perjuangan di tengah masyarakat.

“Kita membutuhkan kader yang tidak hanya berani melawan, tetapi juga mampu membangun, mengorganisir, dan memimpin perjuangan di teritorial sebagai bagian dari struktur di komite politik,” demikian penegasan dalam seruan tersebut.

Untuk mewujudkan tujuan itu, pembangunan struktur organisasi harus dilakukan di dua medan utama: pabrik atau perusahaan dan wilayah teritorial permukiman. Struktur pabrik menjadi basis pengorganisasian buruh di tempat kerja, sementara struktur permukiman membuka ruang untuk membangun kekuatan bersama masyarakat.

Penguatan kedua struktur tersebut menjadi penting agar gerakan buruh tidak hanya bergerak ketika muncul konflik industrial atau tuntutan di tempat kerja. Organisasi juga perlu hadir di tengah persoalan rakyat dan membangun kepemimpinan yang mampu menghubungkan perjuangan ekonomi dengan agenda politik.

Tantangan gerakan buruh, dengan demikian, bukan sekadar mengerahkan massa dalam aksi, melainkan membangun organisasi yang berkelanjutan dan menyiapkan kader yang mampu memperluas serta memimpin perjuangan.

Seruan Tanggung Jawab Sejarah itu ditutup dengan slogan: “Bangkit, lawan, hancurkan tirani!”