- 83 Ribu Koperasi Berbadan Hukum, LPDB Perkuat Ekosistem Pembiayaan Koperasi Indonesia
- Pasien Bayi Kembali Dirawat di NICU Usai Operasi, Rekan Indonesia Sumsel Soroti Pelayanan Kesehatan
- Babak Baru Partai Ummat, Sinergi Tokoh-Tokoh Muda Dan Kekuatan Jaringan Menuju Pemilu 2029
- Ketum DPP Rekat Indonesia Nyatakan Presiden Prabowo Dengan Tegas Perintahkan Tindakan Pejabat yang Terlibat Korupsi Dan Gratifikasi
- Khitanan Massal PAM JAYA Layani 2.067 Peserta, Raih Rekor MURI
- Pemprov DKI: Jakarta Kini Bersaing dengan Kota-Kota Besar Dunia
- Depot Bu Rudy Resmikan Sertifikat Halal Cabang Ke-6 Di Harbour City Nine Surabaya
- Transformasi Besar Stasiun Gambir Dimulai, KAI Investasi Rp1 Triliun dari Dana Internal
- Heikal Safar SH Dukung TNI Menolak Backingin Koruptor.!! Saat Polisi Geledah 12 Lokasi Terkait 3 Kasus Korupsi Raksasa
- Maman Abdurrahman: AI Bukan Lagi Masa Depan, Kini Jadi Kebutuhan UMKM Indonesia
Yusril Ihza Mahendra Singgung Potensi Ancaman AS terhadap Indonesia

Keterangan Gambar : Yusril Ihza Mahendra Singgung Potensi Ancaman AS terhadap Indonesia
Bernusa.com. JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, menyinggung potensi ancaman geopolitik dari Amerika Serikat terhadap Indonesia dalam Seminar Nasional bertajuk Tantangan Regulasi dalam Menghadapi Gig Economy dan Artificial Intelligence pada Selasa (19/5/2026).
Dalam paparannya, Yusril menilai kepentingan geopolitik negara-negara besar saat ini sangat berkaitan dengan perebutan sumber energi dan sumber daya mineral strategis dunia. Ia mencontohkan langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela sebagai bagian dari kepentingan tersebut.
Menurut Yusril, selain Greenland dan Venezuela, Indonesia juga dinilai memiliki potensi menjadi target kepentingan geopolitik Amerika Serikat karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.
“Target selain Greenland, negara mana? Ya ini (Indonesia) yang dikejar,” ujar Yusril dalam seminar tersebut.
Baca Lainnya :
- Dari Yogyakarta, BNI Tegaskan Komitmen Jadi Bank Global Indonesia0
- IRGC Ancam AS dan Israel: Iran Belum Gunakan Seluruh Kekuatan Militernya0
- Ketua Umum GAWAT: Penangkapan Jurnalis Adalah Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers0
- PRSI Bangka Belitung Dorong Pendidikan Teknologi Lewat Bangka Robotic Competition 20260
- IHSG Anjlok Terdalam di Asia, Dasco Datangi BEI dan Bahas Strategi Pemulihan Pasar0
Ia juga menyinggung posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik, termasuk kedekatan wilayah Guam dengan Papua yang menurutnya memiliki arti penting dalam kalkulasi pertahanan dan militer internasional.
Dalam pernyataannya, Yusril menilai Indonesia saat ini belum berada dalam kondisi siap menghadapi perang terbuka apabila terjadi konflik besar di kawasan.
“Dari Guam ke Papua cuma 6 jam, yang jadi pangkalan militer di Guam, kita dalam kondisi tidak siap perang. Hitung berapa kekuatan militer kita, kalau kita perang paling cuma bisa 4 hari,” kata Yusril.
Pada kesempatan itu, Yusril juga menegaskan pentingnya Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia tidak mengambil sikap terlalu keras terhadap langkah Amerika Serikat di Venezuela.
Pernyataan Yusril tersebut memicu perhatian publik karena menyinggung langsung posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik internasional yang semakin memanas, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
_-_Copy.png)








_(1).png)

