- Ketergantungan Impor Picu Krisis Plastik, Pemerintah Dorong Bioplastik Lokal
- Langkah Nyata Pemerintah: Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi di Mimika
- Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia
- Kowapta Soroti Kinerja Jakpro: Ambisi Besar Dinilai Tak Sejalan dengan Akuntabilitas
- Indonesia Menuju Era Demokrasi Baru: Membaca Regresi Militerisme dengan Data, Teori, dan Fakta Mutakhir.
- PRSI Kembangkan CNC Serbaguna, Perkuat Industri dan Siapkan Generasi Robotika
- Dukung Ketegasan Munjirin, Jangan Biarkan Birokrasi Jadi Panggung Sandiwara
- Audensi di Kantor Kementerian PB.Formula Berharap Yusril Ihza Mahendra Mendukung Kegiatan Majis Ilmu dan Majlis Dzikir
- Ketua KJJT Ade Maulana Wafat, VJB Takziah ke Rumah Duka di Surabaya
- Megah di Mata, Berat di Anggaran: Membaca Ulang JIS
Megah di Mata, Berat di Anggaran: Membaca Ulang JIS

Keterangan Gambar : Roni Rosa, SH. Koordinator Kopwapta
Oleh: Roni Rosa, SH
Koordinator Koalisi Warga Peduli Jakarta (Kowapta)
Pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) kerap diposisikan sebagai simbol kemajuan Jakarta sebagai kota global. Stadion berstandar internasional ini diharapkan menjadi pusat kegiatan olahraga sekaligus ruang bagi berbagai agenda berskala besar.
Baca Lainnya :
- Tak Sekadar Jual Beli, Pasar di Jakarta akan Disulap Jadi Ruang Publik Modern0
- Polemik JAKI: Ketika Kritik DPRD Keras, Tapi Tak Tepat Sasaran0
- Lebih Hemat, Lebih Sehat: Air PAM Jaya Kurangi Beban Warga0
- Lebaran Betawi 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Sekda DKI: Momentum Perkuat Persatuan Warga0
- Menata Ulang Bantar Gebang: Antara Tragedi dan Tanggung Jawab Tata Kelola.0
Namun, di balik kemegahan tersebut, penting untuk melihat JIS secara jernih dan proporsional, khususnya dari sisi keberlanjutan ekonomi dan kepentingan publik.
Sejak awal, JIS dirancang tidak hanya sebagai stadion sepak bola, tetapi juga sebagai pusat kegiatan hiburan dan event internasional. Harapannya, keberadaan stadion ini dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan.
Meski demikian, secara karakteristik, stadion merupakan infrastruktur dengan biaya operasional tinggi dan tingkat pemanfaatan yang tidak selalu stabil. Kegiatan berskala besar tidak berlangsung setiap saat, sementara biaya perawatan tetap berjalan secara rutin.
Dalam konteks ini, pertanyaan yang relevan adalah sejauh mana JIS mampu menghasilkan pendapatan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Sebagai proyek yang dibangun oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), JIS berada dalam skema Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memiliki peran ganda. Di satu sisi, BUMD didorong untuk menjalankan fungsi bisnis. Di sisi lain, ia tetap memikul tanggung jawab publik.
Konsekuensinya, risiko yang muncul dari pengelolaan proyek tidak sepenuhnya terpisah dari kepentingan masyarakat. Dalam kondisi tertentu, dampaknya dapat beririsan dengan keuangan daerah.
Oleh karena itu, transparansi menjadi hal yang mendasar. Publik perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai:
1. Kinerja keuangan JIS
2. Tingkat pemanfaatan stadion
3. Serta proyeksi keberlanjutan pengelolaannya
4. Keterbukaan ini merupakan bagian dari akuntabilitas atas penggunaan sumber daya publik.
Pembangunan JIS juga perlu dilihat dalam kerangka yang lebih luas, yakni arah pembangunan Jakarta secara keseluruhan.
Di satu sisi, stadion modern dapat meningkatkan citra kota dan membuka peluang ekonomi. Namun di sisi lain, kebutuhan dasar masyarakat masih memerlukan perhatian berkelanjutan, seperti:
1. Akses air bersih
2. Hunian layak
3. Pemerataan layanan publik
Dalam hal ini, penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur berskala besar dan pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Ke depan, pengelolaan JIS memerlukan pendekatan yang realistis dan adaptif. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
1. Memperkuat model bisnis agar lebih berkelanjutan
2. Membuka kerja sama dengan operator profesional untuk meningkatkan pemanfaatan
3. atau menegaskan fungsi JIS sebagai infrastruktur publik yang membutuhkan dukungan anggaran
Apa pun pendekatan yang dipilih, keseimbangan antara efisiensi dan kepentingan publik harus tetap menjadi pijakan utama.
JIS merupakan bagian dari upaya membangun Jakarta sebagai kota modern. Namun, keberhasilan sebuah infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh kemegahan fisiknya, melainkan juga oleh manfaat nyata dan keberlanjutan pengelolaannya.
Dengan keterbukaan, evaluasi yang objektif, dan orientasi pada kepentingan publik, JIS dapat diarahkan tidak hanya sebagai simbol kebanggaan, tetapi juga sebagai aset yang memberikan nilai bagi masyarakat.
_-_Copy.png)






_(1).png)

.jpg)

